Hancurnya Industri MusiK Global

23 Sep 2010

Bingung juga sih mau nulis judul, yang hancur industri musik global, tradisional atau internet.

Tulisan ini tercetus gara2 saya baca beberapa artikel dari media lokal sampai tulisan jurnalis internasional. Beberapa waktu lalu saya baca mengenai hancurnya industri musik tanah air dengan ditandai banyaknya toko musik yang tutup, salah satunya toko musik aquarius dago, dan saya baru tau tu toko tutup pas baca artikel tersebut, padahal sering banget lewat dago, akhirnya niat saya cek, bener tuh toko dah tutup, padahal tutupnya dah beberapa tahun yang lalu, sekarang bekas aquarius di ganti salah satu gerai operator telekomunikasi.

kalau diperhatiin lagi bener juga, di mall2 banyak banget toko musik yang tutup. kalau bicara industri musik minor alias biasa disebut indie label, rata2 dari mereka mendistribusikan produknya lewat toko2 baju anak muda atau yang biasa disebut distro(distribution outlet). malah terakhir waktu bulan puasa saya ke carefour cempaka putih, ada cd lagu band Gigi dijual disana dan hanya dijual di carefour. makin bingung aja saya tentang industri musik tanah air.

diluar negeri pun sama, beberapa malam yang lalu, saya membaca artikel mengenai runtuhnya industri musik internet, intinya kita tau semua karena pembajakan dan mudahnya mendownload lagu secara gratis.

saya mengikuti beberapa forum musik, karena saya memang bercita-cita menjadi publicist, sebuah profesi yang vital di industri musik, intinya orang yang bertugas mengorbitkan sebuah band, mungkin sejenis kali sama promotor. dalam artikel yang di tulis oleh dosen dan juga praktisi bisnis musik dari inggris Andrew Dubber, di websitenya newmusicstrategies.com dia selalu menekankan bahwa industri musik not change but changing, walaupun saya gak ngerti2 amat bahasa inggris, intinya yang saya tangkap adalah industri musik adalah sebuah industri yang selalu berubah dan dengan internet, perubahan terjadi sangat drastis.

berdasrkan laporan asosiasi industri musik digital dan berbagai laporan tahunan dari web penyedia penjualan lagu digital, pada tahun 2009 total sharing alias uang yang dibayarkan kepada pencipta lagu dan band total sedunia lebih dari 150triliun rupiah… angka yang sangat menyengangkan, bisa nutupin APBN Indonesia.. dan itu angka yang di sharing belum total penjualan dan keuntungan si jasa penjual lagu.

kalau di Indonesia perubahan yang terjadi kan dari penjualan lagu fisik(CD atau kaset) menjadi RBT(Ring Back Tone), itu pun dipikir-pikir sadis juga, karena royalti dari aktivasi RBT yang dibayarkan ke pemilik lagu kurang dari 20%, jadi kalau dari aktivasi RBT 8000 rupiah per minggu atau per bulan si musisi paling banyak dapet 2000 rupiah aja dah syukur, itu pun kalau belum dipotong pajak dan biaya lain2.

kalau dilihat dari antusiasme masyarakat Indonesia dari RBT berarti kan bukan bangsa kita gemar gratisan atau bajakan, tapi ada banyak faktor hingga akhirnya konsumen lebih memilih mengkonsumsi produk musik bajakan. salah satu faktornya mungkin harga produk asli yang mahal. namun ini ternyata bukan faktor utama. ada juga yang beralasan yang asli sulit dicari, ini juga alasan saya mengkonsumsi produk musik bajakan, banyak musik yang saya dengarkan memang tidak dijual di toko musik, tapi ada di rak penjual cd bajakan atau hanya ada di internet, kalau saya sendiri pernah membeli cd lagu asli sampe ratusan ribu karena menurut saya musisi tersebut worth it dan cd nya juga limited+import. ada lagi yang menjadi faktor efisiensi dan efektifitas, sekarang banyak perangkat pemutar musik digital dari mulai hp sampai ipod, dan orang juga ga mau repot2 bawa setumpuk kaset atau CD.

setiap masalah bukan berarti tidak ada solusi, kalau saya sendiri berfikir dari sudut musisi, industri dan konsumen. dengan adanya teknologi bukan berarti mematikan industri musik, malah mempermudah itupun bila industri2 musik besar mau beradaptasi terhadap perubahan, setidaknya mikir sedikit lah. seperti toko musik kenapa saya belum pernah liat ada yang jual lagu digital?

jadi bila sekarang udah jaman digital kenapa tidak mengikuti perubahan dari penjualan fisik ke digital, kalau istilah industrinya from physical distribution to digital distribution. coba kalo toko musik besar menyediakan layanan penjualan musik digital, saya yakin tokonya tetap mendapat keuntungan, mungkin bahkan lebih untung. masa kalah sama penjual lagu yang di sentral2 penjualan hp dengan bermodalkan komputer. seperti yang di kemukakan Andrew Dubber, bahwa kelebihan penjualan musik digital adalah tidak adanya kelangkaan barang dan proses produksi sampai distribusi yang ribet. iyalah tiap penjualan musik digital tidak mengurangi stok lagu. jual aja 1album lagu sepuluh ribu rupiah, lebih untung kan ketimbang jual fisik kaset/cd karena biaya produksi nyaris 0. buat si musisi juga untung karena dengan harga produk musik mereka lebih murah maka lebih banyak yang beli maka lebih untung. seperti operator telekomunikasi yang tiap tahun makin murah tarif teleponnya, toh laporan keuntungan mereka tiap tahun malah makin meningkat.

bila musik digital dijual di toko musik maka memudahkan pembeli juga, tinggal bawa alat penyimpan digital, seperti hp, laptop atau flashdisk, transfer trus bayar di kasir. karena bangsa Indonesia tidak seperti di luar negeri yang mayoritas orang punya kartu kredit atau memiliki akses untuk transaksi secara elektronik.

kalau masalah pembajakan balik lagi ke mental si konsumen, dan saya yakin mayoritas orang Indonesia bangga untuk merhagai musisi yang mereka cinta, buktinya RBT laku2 aja, bukan hanya karena RBT produk inovatif, tetapi karena kemudahan proses transaksi yaitu dengan langsung memotong pulsa telepon.

semoga tulisan saya berguna bagi kemajuan musik, khususnya musik tanah air. dan bagi pemilik toko musik yang mau nyolong ide bisnis saya silahkan, syukur mau ngajak kerjasama sistem penjualan lagu digital*ngarep.com*..

dan buat musisi tanah air, apapun aliran musik Anda, teruslah berkarya, oh iya, dengan sistem digital distribution justru yang untung musisi2 kecil bisa dapet sharing yang besar. kenapa? iyalah, kalau musisi besar/major paling gampang cari download gratis. dan orang ada kecenderungan ingin mendengarkan musik yang lebih personal alias khusus. jadi buat yang mulai ngeband tapi niatnya seperti band2 besar mending kirim demo aja deh ke nagaswara ato coba tawarin tuh ke si akan Charlie ST12. Balik lagi lah masing2 musisi punya tujuan sendiri, gw sih ogah punya banyak uang dari musik tapi cuman jadi pengikut selera pasar alias mainstream.

next, saya coba jelaskan deh gimana mempromosikan musik secara global, tapi ntar setelah saya sukses jadi publicist.. makannya doain hehe


TAGS


Comment
-

Author

Follow Me