Catch a Butterfly

1 Nov 2010

Selamat hari senin, hari dimana sebagian banyak orang memulai waktu seminggu(tapi ga berlaku buat saya yang tiap hari menikmati hidup alias jobless haha). Di blog saya yang lama biasa tiap hari senin saya membuat tuliasan mengenai motivasi dan kawan-kawannya, jadi ga ada salahnya saya coba nulis lagi.


Tema Catch A Butterfly ini saya ambil dari seminar James Gwee yang saya ikuti sekitar 4 tahun yang lalu di Balai Sarbini, ini pertama kalinya saya menghadiri seminar James Gwee. Seminar ini sendiri memamng dieruntukan untuk mahasiswa.
Dalam fase kehidupan seperti setelah lulus kuliah atau dimana keadaan kita memang harus mencari nafkah untuk diri kita sendiri atau keluarga dianalogikan oleh Pak James sebagai menangkap kupu-kupu. Kebanyakan orang menangkap kupu-kupu ini dengan cara mencari dimana kupu-kupu ini ada menangkapnya entah dengan tangan kosong atau dengan jaring. Tapi ternyata menangkap kupu-kupu dengan cara ini sangat tidak efektif, karena kita perlu berpindah-pindah tempat dimana kupu-kupu banyak hinggap. Sering kali kita harus berpindah-pindah pekerjaan, bahkan berpindah-pindah tempat tinggal hanya untuk mencari nafkah sampai perlu meninggalkan keluarga. Waktu menjadi hal yang sangat mahal bagi orang-orang yang menangkap kupu-kupu dengan cara mengejar, mahal karena tipe orang-orang ini mempunyai waktu terbatas untuk melakukan hal-hal yang tak kalah penting, seperti menjaga kualitas hubungan keluarga maupun sosial.
Jadi menangkap kupu-kupu dengan cara mengejar dalam jangka waktu panjang justru akan merugikan kita sendiri. Kita pergi pagi pulang malam, malah ada yang pergi saat anaknya belum bangun, pulang sampai rumah anaknya sudah tidur, hari weekend akhirnya hanya untuk istirahat dirumah karena selama weekdays udah habis-habisan untuk mencari nafkah. Dan semakin lama kita melakukan hanya akan membuat kita mahir mengejar kupu-kupu, bukan berarti semakin banyak kupu-kupu yang bisa kita tangkap.
Cara terbaik menangkap kupu-kupu ternyata lebih mudah, cuman butuh waktu dan ketekunan. Tidak perlu kita pergi dari tempat kita berada sekarang. Kupu-kupu ternyata suka hinggap di taman yang penuh dengan bunga. Jadi dari pada kita mencari kupu-kupu lalu mengerjanya. Lebih baik kita membuat taman dihalaman rumah kita lalu kita fokus membuat taman tersebut menjadi indah sehingga kupu-kupu banyak yang hinggap di taman kita.
Mendengar analogi yang di berikan oleh James Gwee, saya jadi teringat dengan istilah First build or self, and money comes second. Sering kali yang kita lakukan dalam hidup justru mengejar uang sampai mengorbankan banyak hal yang justru lebih penting untuk kehidupan kita pada akhirnya. Yang dimaksud membuat taman adalah dengan cara kita berfokus membentuk diri kita hingga orang lain akhirnya menghampiri kita untuk bekerja sama menghasilkan uang. Tentunya uang tidak mungkin datang begitu saja, uang datang melalui orang. Bisa jadi atasan kita di kantor, mitra atau konsumen, bisa juga bandar togel(kalau yang terakhir ini off the record :D ).
Tentunya konsep membangun taman untuk menangkap kupu-kupu selaras dengan buku motivasi pertama yang saya baca 7 Habbits Daily Effective Principle for People karangan Stephen Covey, pada prinsip ke-7 yaitu Asahlah Gergajimu, di ungkapkan bahwa sering kali kita bekerja terus menerus tanpa mengasah kemampuan kita dalam menyelesaikan pekerjaan.
Mengasah gergaji atau membangun taman bisa dengan cara kita melatih keahlian kita dalam suatu bidang atau melatih diri kita dalam kemampuan interpersonal skill, sepeti komunikasi, persuasif, empati, leadership bahkan kemampuan kecerdasan emosi(maklum skripsi saya mengenai emotional intelligence in leadership jadi hapal variabelnya hehe).
Jadi sekarang terserah Anda, mau tetap menangkap kupu-kupu dengan cara mengejar atau membuat taman sehingga kupu-kupu tersebut hinggap tanpa kita harus lelah.


TAGS


-

Author

Follow Me