Melatih Pribadi Yang Baik Dengan Berkendara

23 Dec 2010

Judulnya kok rada lebay ya? Bodo lah. Kali ini buat tulisan bukan karena ada lomba dblogger juga, ini memang draft tulisan saya yang lama. Saya publish sekarang sekalian turut meramaikan acara online dblogger.

Selama saya menjadi manajer HR(di perusahaan fiktif mana lagi?), saya selalu memiliki cara unik cenderung ekstrim dalam melakukan seleksi calon karyawan. Dari mulai tidak pernah membaca CV calon pekerja sampai dengan menyuruh beli rokok. Didalam training, seminar dan confrence HR sendiri selalu berulang kali diungkapkan bahwa karakter seseorang itu jauh lebih penting dari pada skill. Kita(manajer HR/perusahaan) dapat mentraining karyawan untuk meningkatkan skill, tapi untuk meningkatkan karakter karyawan jauh lebih sulit, malah cenderung mustahil. Karena karakter seseorang dikembangkan dari dalam orang tersebut. Yang termasuk karakter karyawan adalah disiplin, kejujuran, integrasi, loyalitas, dsb.

Sangat sulit memang mengetahui karakter seseorang dalam waktu singkat, kalau mengetahui skill seseorang mah yah tinggal lakukan srangkaian tes tertulis, selesai. Tapi menurut saya justru buang-buang waktu, biaya, pikiran dan tenaga saya sendiri untuk melakukan serangkaian tes terhadap calon pekerja. Kalau soal skill tinggal liat CV, nah untuk mengetahui karakter seseorang selain wawancara saya ada beberapa cara dari mulai meminta calon pekerja membelikan rokok dan saya tentukan warungnya, disitu saya bisa mengetahui orang tersebut jujur bila memberikan uang kembalian sesuai harga warung yang telah saya tentukan. Kadang dari cara seseorang makan saya bisa mengetahui karakter calon pekerja. Yang paling saya suka yaitu dengan cara meminta calon pekerja membawa kendaraan. Lho?

Ga aneh juga buat saya melihat ekspresi heran calon pekerja yang saya minta mengantarkan saya ke suatu tempat dan calon pekerja tersebut yang membawa kendaraan. Padahal mereka apply untuk posisi tehnik atau marketing. Kalau mereka apply posisi driver sih tidak aneh. Dan tidak masalah juga buat saya calon pekerja tersebut bisanya bawa motor atau mobil.

Yang pertama saya lihat dari calon pekerja saat pertama menaiki kendaraan adalah soal awareness. Bagaimana calon pekerja ini memperhatikan keselamatan dasar berkendara. Dari paling simple apakah orang tersebut mengecek kondisi ban, kurang angin atau tidak. Karena saat saya melakukan tes dengan cara membawa kendaraan, saya selalu menggunakan kendaraan perusahaan. Sisanya apakah dia mengguanakan safety belt atau helm. Dan saya biasanya sengaja tidak menggunakan helm atau safety belt, untuk mengetahui apakah dia akan menegur saya atau tidak. Kebanyakan sih tidak menegur karena mereka berfikir saya orang yang menentukan apakah mereka diterima kerja atau tidak. Dan bila ternyata kendaraan saya di tilang, saya mah gampang ada orang kantor ini yang khusus mengurusi hal-hal berkaitan dengan polisi dan kendaraan. Dari awal saja saya sudah tau apakah calon pekerja ini selain mempunyai sikap awarness, punya sikap patuh terhadap peraturan atau malah takut terhadap petugas. Jadi kalau orang tersebut tidak menegur saya menggunakan helm atau safety belt jelas tidak akan saya terima kerja, termasuk bila orang tersebut berkata, Pak, kok helm/safety beltnya tidak digunakan, nanti kita bisa di tilang. Dari situ saya juga tau orang tersebut bukan memperhatikan hal yang lebih besar yaitu keselamatan tapi lebih karena takut. Untuk orang yang seperti ini biasa saya masukan tahap pertimbangkan cenderung tidak saya terima sebagai karyawan.

Selanjutnya saat awal mulai jalan saya suka sengaja mendistract pengemudi dengan cara menyetel radio keras-keras sampai mengajak ngobrol. Dari sini juga saya bisa melihat apakah seseorang punya konsentrasi yang tinggi atau tidak. Kalau ternyata mengemudinya rada-rada tidak konsen baru saya buat suasana jadi hening. Tapi saya justru lebih respect ketika orang tersebut bilang,Maaf Pak, saya tidak bisa berkonsentrasi bila diajak mengobrol atau mendengarkan radio terlalu keras. Yang jelas orang tersebut saya berikan poin plus karena tau bagaimana membuat dirinya lebih konsentrasi. Malah kadang sebelum orang tersebut menaiki kendaraan saya dengan sengaja merubah posisi kaca spion secara acak jadi saya tau ini orang beneran aware atau bahkan sama sekali tidak menggunakan kaca spion. Dan bila ternyata hampir menyerempet kendaraan lain, saya perhatikan reaksi orang tersebut apakah menyalahkan kendaraan lain, kaca spion atau malah menepi dan membenahi kaca spion. Bila orang tersebut melakukan option terakhir yaitu menepi, saya mengetahui orang tersebut punya sifat responsibility+problem solving.

Setelah berapa menit jalan saya biasanya berkata,wah saya janjian 15 menit lagi tapi keliatannya kita paling cepat sampai 30 menit, gimana yah?. Dari sini saya lihat respon calon pekerja apakah dia tipe defense atau aggressive driver. Karena disini saya tes calon karyawan bukan partner business jadi untuk apa orang aggressive? Nah, bukan berarti kondisi tersebut tidak ada solusi, bila calon pekerja berkata,Bapak, coba kasih kabar orang dengan janjian dengan Bapak, bahwa akan telat datang. Poin plus lagi bila orang tersebut bilang seperti itu, berarti dia punya solusi dan mengerti etika ketika janjian. Tentunya orang tersebut tetap mengutamakan keselamatan ketimbang membahagiakan atasan. Justru karyawan tipikal seperti ini membuat perusahaan aman, jadi bila atasan salah dia lebih patuh pada aturan perusahaan. Dan bila ternyata calon pekerja malah menjadi agresive karena tau keadaan saya sedang terburu-buru saya biarin aja.

Berkendara tentunya berkaitan dengan kendaraan lain, mau itu didalam tol atau bahkan didalam komplek, kecuali berkendara di proyek yang letaknya ditengah hutan. Dari sini saya bisa mengetahui banyak mengenai karakter dan tingkat emosi seseorang. Dari mulai apakah saat lampu kuning orang tersebut mengurangi kecepatan atau malah makin menginjak gas lebih dalam. Udah gitu kadang sengaja saya bilang,Nah dari sini belok ke seberang sana, tapi puterannya masih jauh di ujung. Saya bisa liat apakah dia akan putar balik di tempat tanda dilarang putar balik karena lebih dekat atau malah dia akan ke ujung jalan lalu putar balik. Disini bisa terlihat apakah seseorang memiliki tingkat disiplin atau tidak. Pokoknya selama dijalan saya sama sekali tidak pernah menegur calon pekerja, mau nyetir serampangan atau kayak siput. Saya santai aja, klo ketilang ada yang ngurus, kalau pun celaka diasuransi ini ama kantor.

Safety riding berguna bukan hanya untuk diri sendiri dan penumpang yang dibawa tapi juga keselamatan pengguna jalan yang lain, safety riding selain berkaitan dengan mentaati peraturan lalu lintas, yang banyak orang lupa yaitu etika berkendara. Etika adalah suatu yang tidak diatur dalam undang-undang lalu lintas, tetapi dapat mencerminkan bagaimana karakter pengemudi. Salah satu nya adalah mendahulukan pejalan kaki. Ini juga yang saya perhatikan saat melakukan seleksi calon karyawan dengan cara tes mengemudi. Bagimana orang tersebut mau memberi jalan pada kendaraan lain atau mengurangi kecepatan dan mendahulukan pejalan kaki yang hendak menyebrang. Kalau prinsip saya sendiri tidak masalah memberi jalan selama meminta dengan baik-baik(tidak dengan membarikan lampu high-beam) dan selama tidak melanggar aturan.

Jujur untuk dijalan saya sendiri lebih cenderung menjadi pengemudi yang agresive ketimbang defense. Tapi agresive yang tidak merugikan pengguna jalan lain dan tetap tertib pada peraturan. Apalagi dalam menghadapi para angkutan umum saya tidak segan-segan beradu dengan bajaj, metromini sampai bus PPD. Sering kali mereka seenaknya dari jalur tengah mengambil jalur kiri dengan cara kondektur berdiri di depan kendaraan kita. Dan yang saya lakukan adalah tabrak saja kondekturnya di tambah saya buka kaca, saya tidak peduli kendaraan yang saya bawa waktu itu mobil butut atau sedan mewah, karena saya ingin memberikan efek jera bagi pengendara angkutan umum untuk tidak seenaknya dijalan dengan dalih mencari nafkah. Kita pun tau lah semua orang dijalan juga sebenernya mencari nafkah. Dan buat orang-orang terdekat saya sudah tidak aneh lagi lihat saya ketika mencederai(melukai atau memukul mah biasa) pengemudi angkutan umum. Rekan saya juga terkadang serba salah, ketika menempatkan saya duduk di kursi penumpang agar saya tidak agresive terhadap angkutan umum, saya malah lebih mudah lagi ketika melihat gelagat seenak udel para angkutan umum saya tinggal turun dari mobil dan biarkan kekerasan yang berbicara :)

Terkadang saya malah sengaja menabrak pengguna motor yang sering menerobos lampu merah ketika jalur saya yang lampu hijau. Sekali lagi dengan dalih saya efek jera :D penggendara-pengendara motor tersebut menjadi sasaran empuk bagi saya untuk di tabrak hingga jatuh, dan bila jatuh apa yang saya lakukan? Memhampiri pengendara motor tersebut saya maki dengan,Eh, ANJ*NG buta mata lo ga liat lampu masih merah!, lalu saya ludahi mukanya, terus saya melanjutkan perjalanan saya. Tidak perduli mau pengendara yang nekat tersebut masih muda atau malah udah sangat tua, justru kalau tua harusnya memberikan contoh. Dan momen-momen seperti itu membuat saya merasa hidup ini makin indah :) Pertanyaannya mengapa saya mau berbuat segitu baiknya terhadap pengendara yang melanggar peraturan? Karena saya sendiri selalu berhenti dibelakang garis putih dan dengan sangat sabar menunggu giliran lampu hijau. Saya berani karena saya merasa benar. Jadi wajar(*justify) bila saya amat sangat emosi bila menemukan pengendara yang tidak tertib dan kita juga tahu polisi lalu lintas cenderung amat sangat adil(makna konotasi) terhadap pelanggar lalin. Dan karena sikap saya tersebut kepada pelanggar lalin tentunya membuat saya sangat enggan melanggar lalin sekelcil apapun, yah tiba-tiba saya melanggar ternyata menemukan pengemudi yang sikapnya kayak saya gimana?

Guru saya pernah bilang,perilaku lalu lintas mencerminkan jati diri bangsanya. Wah seru kalau mau mem-break down kalimat tersebut, dari mulai kendaraan butut sampai pejabat kita tahu lah perilakunya seperti apa, malah kadang saya salut kendaraan yang terlihat butut justru berkendara dengan sangat tertib, lebih salut lagi bila kendaraan mewah dengan perilaku berkendara yang baik. Yang pasti untuk menjadi rekan bisnis saya tidak akan berfikir panjang bila orang tersebut mempunyai perilaku berkendara yang baik, tertib dan beretika.

Nanti kalau ada pembaca tulisan saya ternyata melamar kerja dengan saya sebagai manajer HR, udah ketauan deh cara saya mengetahui karakter orang dari cara mengemudi. Untuk HR sendiri secara umum ada 3 program certified yaitu CPHR(Certified Professional Human Resources), CBA(Certified Behavior Analyst), sama CHA(Certified Hand-writing Analys). Untuk yang saya ga kalah menariknya adalah CHA. Terkadang ada perusahaan yang meminta calon pelamar menulis surat lamaran dengan tulisan tangan, karena untuk di mapping alias dibaca sifat dan karakter seseorang lewat tulisan tangan. Untuk hand writing sendiri bila kita ingin memperkuat atau memperbaiki karakter kita sendiri ternyata dengan belajar cara menulis tangan, secara tidak langsung dapat memperbaiki karakter kita(percaya atau tidak percaya kan?). Nah, dari pada ribet-ribet belajar hand writing analys kenapa tidak kita coba dari yang hampir kita lakukan sehari-hari yaitu dengan cara berkendara yang baik, jelas secara langsung melatih kesabaran, disiplin,tanggung jawab, awreness, ketelitian, pengambilan keputusan, kepedulian dan banyak hal lainnya.

So, bagaimana dengan cara berkendara Anda?

How You Respect Others Its Reflecting How You Respect Your Self Achmad Iman Firmansyah


TAGS blogger for safety riding


-

Author

Follow Me