Bisakah musisi idealis masuk ke dalam industri mainstream?

28 Dec 2010

Sekarang lagi gandrung dan cukup fenomenal yaitu grup boy band SM*SH. Yang dimaksud gandrung adalah grup ini banyak di komentari orang, kebanyakan komentar yang didengar dari telinga saya langsung adalah komentar negatif. Tapi kan saya ga tau komentar keseluruhan masyarakat Indonesia yang mengetahi tentang grup SM*SH. Kalau saya sih jujur suka dengan lagunya karena ditelinga saya terdengar fresh and catchy, plus dari segi packaging okelah.

Lucunya lagi saya baru ngeh kalau ternyata salah satu personilnya adalah teman dari teman saya sendiri. Dan ternyata ada salah satu teman saya yang waktu itu sempat ditawari audisi menjadi personil SM*SH. Teman saya tersebut lalu minta pendapat dari yang lain, ternyata teman-teman saya berpendapat: yah terserah kalau lo mau ikutan, itu mah hidup ya hidup lo. Yang pasti ampe lo masuk bakal kena blacklist dari kita-kita. Walhasil teman saya tersebut urung ikut audisi, intinya lebih mempertahankan pertemanan dari pada ketenaran.

Sebelumnya kita samakan dulu perepsi idealis dan industri mainstream versi saya(tentunya,secara yang nulis ini kan saya). Idealis daam musik merupakan sikap dimana seseorang mengembangkan kreatifitasnya tanpa campur tangan orang lain(produser,label atau selera pasar), yah musisi idealis berkarya menurut kehendaknya sendiri dan apa yang menurut dia bagus. Sedangkan industri mainstream sendiri adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak didunia pangung hiburan khususnya musik dari mulai recording, label, management, distributor sampai media yang memiliki pangsa pasar yang luas. Istilah standarnya major label. Kata mainstream sendiri kalau di breakdown kedalam bahasa Indonesia adalah main=utama dan stream=arus. Jadi mainstream merupakan arus utama alias gaya atau selera orang pada umumnya.

Bagi musisi-musisi indie(seperti saya) tentunya mentok-mentok adalah masalah idealisme dan mainstream. Memang tujuan musisi indie(independent) juga bermacam-macam, dari mulai merealisasikan musikalitas, sebagai status pekerjaan(karena pengangguran), biar digandrungi para wanita, mencari sesuap nasi, belum bisa masuk major label, sampai hanya sekedar mengisi waktu(yang ini saya banget). Rata-rata musisi indie adalah idealis(balik lagi ketujuan bermusik), namun saya yang ada di ingkungan recording,mastering,etc malah kadang mendapati musisi indie yang musiknya sangat industrialis(mengikuti selera pasar banget). Sampai malah ada yang saya sama sekali tidak mengerti ini musik apaan. Kenapa masalah musisi indie mentok antara idealis dan kormesilialis(halah,ini bahasa ngarang sendiri), iyalah untuk bisa maju di dunia musik tidak cukup dengan punya karya musik yang baik, apalagi cuman modal penampilan(kenyataannya sih karya tidak menjadi penting bila penampilan kelewat ok). Ada namanya biaya promosi supaya memperbanyak orang yang mendengarka musik kita(urusan suka atau ga mah belakangan). Atau kalau memang mengandalkan sistem MTM alias mouth to mouth minimal kita keluar biaya untuk recording. Dan jelas selalu berlaku harga berbicara. Kualitas alat musik yang seadanya akan banyak mempengaruhi proses akhir dari karya seorang musisi.

Karena biaya yang tidak murah dalam bermusik atau mengenalkan musik kita lebih luas. Mentok lagi yah UUD(Ujung-ujungnya duit), di satu sisi musisi butuh biaya untuk kelangsungan hidupnya dalam bermusik, dan kalau kita melacurkan diri kepada major label, tentunya major label karena profit oriented alias bukan yayasan pasti berlaku prinsip ekonomi yaitu pengorbanan sekecil-kecilnya untuk menfapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Major label bila musik kita kompeten mau saja mengeluarkan biaya dari mulai recording sampai pembuatan video klip, akan tetapi yah timbal baliknya musik kita harus menghasilkan. Tentunya meski major label bukanlah perusahaan sekuritas yang memiliki risk manager, mereka(major label) juga tidak mau terlalu ambil resiko dengan meluncurkan musik-musik yang jarang orang mendengar atau menciptakan pasar sendiri. Perusahaan pasti akan melihat trend dan cenderung mengikuti trend. Ujungnya musisi harus menekan idelisme mereka agar tetap aman posisinya di major label.

Mengutip dari blognya Pandji, seorang musisi rapper dan juga host acara provokatif proactive dimana dia bilang saat ini band yang menciptakan pasar hanya tiga yaitu Peterpan, Nidji dan J-Rock. Walau Nidji dan J-Rock sendiri berkiblat pada band luar namun untuk di Indonesia mereka menciptakan sesuatu yang baru. Nah, mengambil definisi saya di atas mengenai idealisme dalam bermusik semua musisi bisa saja di bilang idealis selama mereka bermusik untuk menghasilkan karya seni bukan untuk menjual diri demi uang. Jadi buat saya bisa saja grup boy band SM*SH tersebut dibilang idealis karena saat ini lagi gandrung-gandrungnya band melayu, malah kita tahu era boyband sudah lewat dan msyarakat kita cenderung jijik melihat boyband, sekarang justru hadir SM*SH. Dan bisa saja ST12 disebut idealis dimana banyak yang tidak suka dengan musik-musik melayu, justru mereka hidup dan terus melejit dialiran melayu.

Jadi inti jawaban saya mengenai bisakah musisi idealis masuk ke industri mainstream?, jawabannya: BIsa, kalau punya banyak modal! Nah terus kalau gak punya modal sebanyak Pee Wee Gaskin? Yah jangan ngimpi masuk major label atau hilangin idealismenya, selesai kan. Untuk yang pengen hidup dengan musik idealis? Masih banyak kok cara, ada seribu jalan ke Roma. Sering-sering update ilmu marketing terbaru dan buat penyesuaian strategi marketing sesuai dengan target pendegar(ini mah urusan orang manajemen banget hehe)

Biasa saya buat quote di akhir tulisan saya, kali ini saya pinjam dari blognya Pandji:

When ur trying to make money, sometimes, well, MOST of the times you focus not on makin art , but on making something that would sell.

When youre trying to sell, you compromise. You compromise and try to do things that will sell, you look at other musicians and start copying, and saying that youre inspired. -Pandji Pragiwaksono


TAGS


-

Author

Follow Me