Pilih pasangan hidup baiknya yang superior atau inferior?

29 Dec 2010

Dasar, berhubung penulis blog ini sarjana ekonomi jadi sampai untuk hubungan pun menggunakan istilah keekonomian. Seperti superior dan inferior merupakan istilah yang digunakan untuk membedekan jenis permintaan barang, high demand(superior) dan low demand(inferior). Kenapa hal ini menjadi penting, karena menurut saya penting(maksabanget.com). Di ujung sebuah hubungan baik itu ujung putus, perceraian bahkan kematian yah hidupnya sebuah hubungan ternyata ada yang lebih awal dari masalah trust, honesty, communication,etc yaitu bagaimana posisi pasangan dari segi banyak hal. Simplenya orang kaya pasangannya miskin, orang ganteng pasangannya jelek, orang tua pasangannya muda. Mo tau lebih banyak? coba klik more(maklum, penulisnya lagi belajar teknik layout ala koran Lampu Hijau, Pos Kota dan kawan-kawannya)

Kita mungkin sering melihat di mall atau dengar cerita: eh si A tuh beruntung banget yah dari keluarga biasa aja nikah dengan orang kaya padahal pendidikan SMA pun tidak tamat. Mungkin cerita tadi masih standar. Ada lagi cerita: Si X sama Y awalnya gak di setujuin sama ortu Y karena X tidak punya pekerjaan tetap tapi karena ortu Y melihat kegigihan X akhirnya setuju, dan setelah menikah X ini di kasih rumah, mobil,dll dari ortu Y. Tapi sekarang si X malah semena-mena gitu sama Y karena merasa apa yang dia punya hasil jerih upaya sendiri. Mungkin cerita yang barusan sedikit rada tidak standar, nah ini ada lagi. Si M ituh nikah sama N dadakan, karena pas N mau nikah sama O, udah sebar undangan ternyata si O ngilang, dan untuk menjaga nama baik keluarga akhirnya sehari sebelum hari H, N mengajak M menikah dan ternyata mau. Macam-macam lah cerita soal nikah, dan tentu dengan ending yang bermacam-macam juga.

Manusia itu ada kecenderungan untuk membanding-bandingkan: eh si ini kan begini-begini.. liat pasangannya kok begitu, dan masih banyak lagi yang dibanding-bandingkan dari mulai fisik, status sosial, harta, tingkat pendidikan, latar belakan keluarga,dll,dsb,dkk. Bisa dibilang 1:1000 lah ada pasangan bener-bener dapat penilaian orang sempurna, itu pun kadang hubungannya justru tidak bertahan lama. Malah yang pasangan yang sama-sama sangat tidak sempurna justru langgeng. Lalu apa rahasianya? Mari kita tanya galileo.(owh galileonya ternyata udah resign, jadi saya aja yang jelasin lewat paragraf bawah ini).

Sama seperti barang, mencari pasangan juga berlaku superior dan inferior(bagi yang tidak setuju silahkan buat tulisan sendiri ajalah). Dimana bila kita ingin mendapatkan pasangan yang high demand alias superior, sudah tentu kita akan memiliki banyak pesaing karena calon pasangan kita bisa dibilang almost perfect dari segi fisik, sifat, karir, pendidikan,etc. Tapi kalau kita akhirnya menurunkan target untuk mendapatkan pasangan yang inferior alias low demand dengan fisik sedang, status social sedang cenderung low, bukan berarti kita tidak punya saingan, tetep ada tapi tidak banyak yang superior. Tapi kenyataan terkadang saingan mendapatkan yang inferior ini lebih banyak dari yang superior karena lebih banyak orang submarginal daripada supermarginal(istilah naon deui iye jang?). Submarginal dalam ekonomi diartikan orang yang mampu membeli barang dibawah harga standar dan supermarginal adalah orang yang sanggup membeli barang diatas harga standar. Jadi orang yang sadar dirinya submarginal memang ada keinginan punya pasangan superior tapi akhirnya mundur dan beralih mencari pasangan yang inferior. Masalah akhir lagi adalah mau ga tu yang inferior sama submarginal? Ini kan masalah perasaan bukan masalah ekonomi dimana justru ada orang submarginal dapat superior(hmm.. siapa tuh yah? Haha)

Nah apa yang membedakan submarginal dengan supermarginal? Karena istilah ekonomi yang kita pinjam tetapi aplikasi pada hubungan kehidupan maka tidak melulu uang yang membedakan, ada yang jauh lebih dalam dari sekedar fisik, umur, status sosial, harta, pendidikan, pekerjaan, kesehatan(ini lagi nulis artikel relationship apa kampanye pilkada?). Yang lebih dalam banyak yang menyebutnya chemistry ada yang bilang klik. Karena balik lagi seperti dalam bukunya Rhonda Byrne The Secret yang menyatakan prinsip ekonomi itu bohong. Prinsip ekonomi adalah kebutuhan manusia itu tak terbatas sedangkan alat pemuas kebutuhan itu terbatas, maka hadirnya scarcity(kelangkaan), The Secret menyatakan alat pemuas kebutuhan itu tidak terbatas karena bumi ini tidak akan pernah bisa habis dan faktanya setiap orang punya kebutuhan itu detail/unik/khusus. Manusia butuh makan. Singkong dan nasi juga makanan, tapi tidak semua orang akhirnya makan singkong kalau tidak ada nasi kan? Seperti saya wajar lah suka perempuan itu cantik, tapi cantik definisi saya pasti berbeda dengan Anda. Untuk banyak orang cantik itu layaknya model catwalk atau yang di billboard, tapi buat saya justru tidak cantik melihat wanita skinny. Kalau saya suka perempuan skinny mah noh teman-teman dekat saya yang wanita bejibun yang model(*sombong)(artikel apa ini malah jadi curhat senidiri?). Begitu juga dengan wanita, tidak selamanya pria keren itu berkulit putih atau bermobil S-Class. Biasa justru wanita lebih dalam lagi dalam mencari sesuatu dari calon pasangannya seperti sifat-sifat leadership, integrity, discipline, loyalty(gini nih artikel relationship yang nulis orang SDM).

Nah kacaunya adalah kebanyakan orang justru mencari pasangan yang tidak fit untuk hidupnya sendiri. Yah ikutin selera pasar aja alias demi pride. gw bisa dapetin dia nih,cewe gw cantik nih,co gw donk tajir. Orang-orang seperti ini sesungguhnya sangat ironis karena sesungguhnya mereka membuang waktu dalam hubungan. Pada akhirnya untuk jangka panjang justru bukan sesuatu yang sifatnya bisa hilang seperti penampilan fisik dan harta, untuk jangka panjang yah butuh sesuatu yang bersifat bisa bertahan lama seperti kemampuan mendengar, pandai memahami, meliki solusi ketimbang menyalahkan dan lain sebagainya. Bagaimana hubungan bisa bertahan lama bila fondasinya justru sesuatu yang bersifat sementara?

Berbeda dengan barang tentunya soal superior-inferior,supermarginal-submarginal dalam hubungan bukan bersifat satu arah, bila barang kan ada uang yah ada barang, tapi dalam hubungan ada namanya simbiosis mualisme. Kalau ada yang bilang cinta itu memberi tanpa berharap kembali, itu bohong! Kalau pun benar itu hanya berlaku untuk cinta orang tua terhadap anaknya. Jadi kalau ada orang yang cinta pure selalu memberi tanpa pernah dapat apa-apa yah tindakan bodoh namanya. Konsep saling mengisi tentunya ada sesuatu yang dibutuhkan dari masing-masing orang dan sudah seharusnya secara sadar maupun tidak pasangan tersebut bisa mengisi kebutuhan pasangannya. Banyak dari kita bertahan terhadap sebuah hubungan karena merasa nanti dia juga bisa berubah, buat saya sih (lagi-lagi) tindakan bodoh menunggu sesuatu yang tak pasti apalagi merasa mampu untuk merubah sesuatu. Makannya untuk saya sendiri lebih baik berhubungan dengan yang lebih dewasa dari saya karena saya tidak peduli dengan proses dan saya menjalani hubungan ini sekarang dan bukan gimana nanti.

Sering kita melihat ada suami-istri yang memiliki sifat saling bertolak belakang tapi hubungannya langgeng. Ada yang suaminya pendiam tapi istrinya bawel. Istrinya dermawan tapi suaminya pelit. Ada yang pemarah tapi pasangannya sangat lembut. Dan tentunya masih banyak lagi bentuk-bentuk pasangan lainnya. Kenapa bisa gitu? Karena dari bawah sadar mereka ada beberapa sifat yang mereka tidak punya tapi mereka butuhkan untuk itu mereka saling mengisi. Tapi ada juga walaupun jarang dimana yang disebut perfect souple, sama-sama baik, sama-sama rupawan. Untuk case yang perfect couple ini selama yang saya analisis dari pasangan ini ada 1 sifat dasar yang mereka miliki selain saling melengkapi yaitu ACCEPTANCE. Yah, acceptance alias saling menerima, biasanya(sok tau aja yang ini) ada kekurangan dari masing-masing diri(mana ada juga yang sempurna) dan kekurangan ini hanya diketahui oleh pasangannya, entah masa lalu atau apapun itu. Tetapi karena adanya saling acceptance tadi justru membuat masing-masing diri berkembang dengan optimal hingga orang lain akhirnya menilai mereka adalah pasangan yang perfect.

Jadi yang baik itu milih pasangan yang superior atau inferior? Jawabannya: yah yang balance. Mendengar jawaban ini mungkin sebagian Anda akan langsung berkomentar: Ah kampret gw capek-capek baca tulisan 8 paragraf ngalur-ngidul ternyata jawabannya cari yang seimbang. Eittss nanti dulu, karena saya ada penjelasan mengenai maksud seimbang. Seimbang justru bukan dari sesuatu yang bisa dilihat seperti umur, status sosial, fisik, tingkat pendidikan dan faktor-faktor lainnnya. Tapi jauh dari itu seperti yang saya bilang tadi seperti seseorang butuh didengarkan/dimerngerti dan pasangnnya butuh disuport. Banyak pendapat yang mengatakan hubungan itu butuh saling pengertian, memahami, support dan saling-saling lainnya, justru saya membantah hal tersebut dapat mengacaukan hubungan. Untuk saya tidak penting pasangan saya bisa mendengar atau memahami saya karena buat saya support itu jauh lebih berarti, malah terkadang karena namanya manusia(wanita) ingin membahagiakan pasangannya dengan cara (mencoba)memahami, ternyata caranya salah justru bukan hanya menganggu diri saya malah dapat membuat saya marah. Padahal niatnya baik ingin memahami saya, tapi karena saya sebenernya gak butuh dipahami malah jadi merusak hubungan. Sadar tidak sadar inilah yang banyak terjadi dimana seseorang merasa: gw tuh jd pasangan kurang apa sih, gw udah perhatian, coba mau ngertiin, selalu jujur, tapi kok dia tetep aja dingin sama gw?. Yah jawabannya sih cuman kurang tahu apa yang sebernarnya dibutuhin pasangannya. Dan untuk mengetahui apa yang dibutuhin pasangan memang ada skill khusus, buat yang penasaran saya recommended buku Awaken Giant Within Anthonny Robbins, buku setebal lebih dari 800 halaman ini lumayan lah ada 2-3 bab menjelaskan mengenai bagaimana cara mengetahui apa yang dibutuhkan pasangan walaupun memang butuh pengetahuan lebih dalam lagi. Yang paling simple mengetahui karakter orang dari segi NLP, jadi kita dapat lebih mudah berkomunikasi dengan pasangan. Sebenernya yang NLP simple ga harus baca buku-buku NLP atau ikut seminar Tung Desem Waringin. Cuman kalau saya jabarin disini yang ada Anda kapok baca blog saya lagi saking panjangnya. (lah yang nulisnya aja udah mulai cape sendiri -___-)

Jadi apakah yang kita butuhin sebenernya pasangan yang superior atau inferior, yah Anda sendiri yang lebih mengerti. Pesan saya pikirkan mendalam apa yang kita butuhkan dari pasangan kita untuk jangka panjang, sebelum mulai mencari pasangan. But make it priority. Means, we know theres nobody perfect out there, so untuk dapat mulai berhubungan kita tidak perlu harus melihat semua list kebutuhan kita di diri calon pasangan baru mau mulai berhubungan. Make it priority seperti apakah kedepan kita butuh pasangan yang pinter secara akademik atau seseorang yang bisa mensupport kita. Bila ternyata kita butuh orang yang bisa support tapi ada calon pasangan yang lebih pintar, kita akan tetap pilih yang potensial punya sifat bisa support kita walau dalam list tingkat pendidikan orang tersebut sedikit tidak sesuai. Udah ah saya ga mau kasih contoh banyak-banyak karena nanti yang mau deketin saya gak perlu usaha banyak(*cuihhh siapa juga yang mau tertarik ma penulis geblek kayak gini). Dan yang dimaksud kedepannya sesuai yang kita butuhkan adalah karena banyak dari kita(khususnya perempuan) mencari pasangan pria yang superior, mungkin karena faktor ekonomi. Memang hubungannya berjalan langgeng tapi di satu sisi si wanita ini merasa tertekan dan tidak berani protes bila diperlakukan semena-mena oleh suaminya(malah saya nemuin case dimana istrinya jelas-jelas tau suaminya punya istri lain dan banyak selingkuhan tapi pura-pura gak tau) karena merasa bila hubungannya berakhir maka kacaulah kehidupan si wanita yang(maaf-maaf) submarginal ini.

Untuk Anda yang merasa diri submarginal ingin mendapatkan yang superior sih sah-sah saja, tapi jangan banyak berharap bila diri Anda submarginal dan pola pikir juga submarginal. Karena orang-orang superior cenderung ingin melihat/memiliki pasangan yang superior dari sudut/cara yang lain. Tapi percayalah(jangan hanya percaya apa yang dikatakan Rudi) setiap orang pasti suatu saat memimiliki pasangan karena seperti prinsipnya The Secret setiap manusia itu mempunyai kebutuhan yang unik. Jadi seunik(sejelek) apa pun Anda yah tanpa berdoa juga pasti dapet pasangan tapi gak usah berharap banyak :D

If You Want To Marry With Princess Than You Must Being Prince unknown(alias saya lupa)


TAGS


Comment
  • heartless 6 years ago

    The point is “Pantaskan Diri” - Ippho Santosa

  • Dani Hamdani 6 years ago

    orang-orang superior cenderung ingin melihat/memiliki pasangan yang superior dari sudut/cara yang lain.
    Waduh, saya blum terlalu paham nih???

    Salam Kenal
    GURU OKE
    http://www.danihamdani.blogdetik.com

    melihat sudut pandang yang lain misal wanitanya kaya dia lihat pria superior justru bukan dari sudut harta tapi lebih ke pola pikir/tingkat kedewasaan pria :)

    Salam kenal jg

  • oka 6 years ago

    mantapz tulisannya gan..pandai btul bikin ane pusing.. hehhe

    maaf ga maksud bro :D

  • mau tahu aja.. 6 years ago

    kalo gitu, aku minta dicariin pasangan aja deh sama kamu..

    loh kok minta cariin pasangan sama yang single :P

-

Author

Follow Me