Gagal Itu Anugerah (Ketika Bisnis Mengalami Loss)

7 Jan 2011

Udah awal bulan nih. Bagi sebagian orang yang profesinya karyawan tentunya awal bulan menjadi hari-hari paling indah. Untuk business owner justru awal bulan menjadi hari-hari paling mencekam. Kenapa mencekam? Karena saat awal bulan banyak sekali yang harus di bayar dari mulai gaji karyawan sampai dengan berbagai macam tagihan yang akan jatuh tempo. Kalau bisnisnya stabil sih tidak masalah, nah kalau bisnisnya justru habis loss gimana?

Minggu lalu, beberapa hari sebelum tahun baru saya iseng aja cek ketempat saya bekerja. Saya selama di Bandung join dengan 2 orang teman saya merintis bisnis recondition dan harddisk data recovery. Intinya tiap saya kesana pasti tanpa saya tanya teman saya memperlihatkan laporan keunagan. Bisnis ini sudah jalan sekitar 3 bulan dan setiap bulan pun belum menghasilkan untung sepeserpun, karena setiap laba yang masuk digunakan untuk investasi alat.

Sudah biasa lah bila liat laporan keuangan defisit alias tidak pernah surplus, akhirnya untuk menutup defisit pun kami menggunakan uang pribadi untuk menutup defisit. Tapi pada beberapa hari sebelum tahun baru laporan keuangan ternyata loss 1,5 juta. Itu loss belum di itung defisitnya. Dan loss karena sebab yang sangat konyol.

Karena ini bukan pertama kali saya membuka bisnis maka pas saya tahu ada loss, yah saya cuman senyum-senyum aja dan sama sekali ga ada emosi negatif maupun mikir ribet, nanya terus gimana? juga ga. Ternyata teman saya tersebut lalu cerita bila ternyata saat pembelian bahan baku ternyata kardusnya tertukar dengan penumpang bus lain. Yaudah semalam itu akhirnya saya ketawa tidak ada hentinya. Dan justru makin seneng aja malah tau bisnisnya loss 1.5 juta, padahal omsetnya aja tidak sampai segitu. Bukan karena mungkin sebelum-sebelumnya dalam bisnis saya pernah loss lebih besar lagi, tapi saya punya prinsip bahwa kejadian apa pun itu pelajaran dan bila uang kita harus hilang maka itulah harga pelajaran yang kita dapat.

Akhirnya teman saya justru bertanya bagaimana mengenai pembayaran hutang untung bulan Januari. Bukannya saya jawab, saya malah terus-terusan ketawa, nulis artikel ini aja saya sambil ketawa gara-gara inget kejadian malam itu. Memang sih teman saya ini bertanggung jawab dengan menutupi loss dengan uang pribadi, namun akhirnya saya usulkan supaya nanti uang teman saya tersebut menjadi hutang bagi bisnis. Intinya uang teman saya akan balik walaupun loss dikarenakan kecerobohan teman saya. Cuman saya sebagai orang yang belajar mengenai SDM, saya lebih baik kehilangan uang perusahaan ketimbang membuat rekan saya tidak nyaman atau merasa tidak enak. Siapa sih yang kerja bisa fokus ketika ada perasaan yang tidak enak saat bekerja?

Selama ini memang bisnis kami ini dibiayai dari hutang, tapi hutang tersebut sebetulnya bisa di backup oleh uang pribadi. Simple nya kami bertiga punya uang 3 juta, tapi kita tidak memasukan uang pribadi kedalam bisnis, justru mencari pinjaman dengan jumlah 3 juta, dan pada saat hutangnya tidak bisa terbayar dari bisnis, baru uang pribadi kami yang keluar. Itu pun hitungannya bisnis berhutang kepada kami bertiga. Mungkin bagi sebagian orang akan memandang aneh dengan pola penanam modal bisnis kami, tapi kami justru menggunakan model seperti ini karena belajar dari pebisnis-pebisnis no. 1 dunia dan akherat(emang ada bisnis juga di akherat?). Dan penjelasan mengapa menggunakan model penanaman modal seperti jauh lebih efektif dari pada uang pribadi, mungkin saya akan coba terangkan pada tulisan saya lainnya atau coba baca atau ikut seminar Tung Desem Waringin.
Wah jangan-jangan yang baru niat mau buka bisnis malah jadi urung karena tulisan saya. Kalau gitu saya coba berikan alasan saya pribadi mengapa lebih baik berbisnis daripada bercinta *loh* maksud saya bekerja. Saya suka bisnis karena disitu saya mendapat tantangan lebih dan tentunya pembelajaran lebih. Bila bekerja paling mentok yang kita pelajaran karakter teman-teman kantor, kalau Anda sales mentok Anda kenal karakter para costumer. Nah kalau bisnis belajar ddari mulai membuat sistem keuangan, produksi, melakukan strategi marketing, menempatkan orang pada posisi yang tepat, mengenal karakter supplier sampai pelanggan bahkan kompetitor. Dan setiap uang yang hilang dalam bisnis pun sebenarnya menjadi pelajaran yang sangat mahal,dan kedepan entah ada aja orang yang membuka kita jalan ke bisnis yang lebih prospek atau mengembangkan bisnis kita sendiri. Saya sendiri selalu bilang pada orang yang ingin membuka bisnis bahwa siapkah untuk hidup sengsara bahkan minus selama 3-6bulan? Kalau tidak siap yah lebih baik sama sekali jangan berfikir untuk memulai bisnis, dan tandanya orang tersebut lebih memilih menderita sepanjang hidupnya. Kenapa menderita? Karena bisnis membuat kita sengsara selama 3-6 bulan tapi bila kita tekun rata-rata 3-5 tahun kita justru malah amat sangat santai, bebas uang dan bebas waktu.

Kali ini saya menulis mengenai kegagalan lebih dari sisi bisnis(sekalian curhat juga sebenarnya), tapi kalau mau di aplikasikan dalam kehidupan sebenarnya gagal itu cuman jalan yang harus dilalui agar kita sampai ketujuan. Sehari-hari aja kalau kita mau menuju kantor atau menuju suatu tempat ada aja kan di jalan dari mulai jalan berlobang, tikungan, lampu merah, macet, hujan dan masih banyak lagi. Tapi kenapa kita mau terus jalan? Karena kita butuh sampai ketempat tersebut. Lalu yang sudah kita aplikasikan sehari-hari kenapa kita harus down dan menyerah saat kita menemukan hambatan?

Kita boleh saja berjalan lambat asal jangan pernah berenti, karena saat kita berhenti sudah pasti kita tidak akan sampai tujuan Achmad Iman Firmansyah


TAGS


-

Author

Follow Me