UN : salah satu contoh kebodohan penyelenggara

18 Apr 2011

UN

Hari ini merupakan salah satu hari yang menegangkan bagi siswa kelas 3 SMA di seluruh penjuru Indonesia. Yaitu diselenggatakannya serentak Ujian Nasional. Dan saya yang pernah mengalaminya pun sampai dengan detik ini ga tau fungsi tuh ujian itu buat apa? Yang saya ngerti ujian tersebut menghabiskan anggaran belanja negara dari mulai ngumpulin guru-guru untuk buat soal, biaya cetak, distribusi, pengawalan soal ujian, biaya pengawas sampai dengan biaya pemeriksaan.

Pertanyaan saya paling dalam: Apa sih ngaruhnya Ujian Nasional dalam hidup saya?

Klo untuk saya jawabannya yah buat lucu-lucuan atau seru-seruan aja. Jujur nilai UN saya rata-rata hanya selisih 0,25 di atas ambang batas kelulusan. Jaman saya kalau tidak salah yang di atas 2,5/3,5 dinyatakan lulus. Yah nilai UN saya pun segitu ditambah 0,25. Dimana serunya? Seru karena seninnya UN hari minggunya saya dan beberapa teman-teman berburu soal UN. 3 Juta untuk satu subjek soal, waktu itu dibagi 10. Jadi saya nyumbang 300rb, nothing to lose karena kalau soal ternyata tidak sesuai maka 100% money back guarantee(contoh penjual yang sangat baik).

Dan yang lebih deg-dengan adalah setelah soal ditangan maka waktunya memfotokopi, tentunya harus mencari tempat fotokopian yang \”aman\”, sampai ketauan itu yang difotokopi soal UN, lumayan urusannya sama kepolisian. Malam harinya, saya sebagai siswa yang super teladan malasnya belajar hanya dari soal yang saya beli, itu pun tidak ada jawabannya. Pas hari H ternyata sesuai dugaan, soalnya berbeda karena begitu banyak seri dalam 1 subjek soal ujian. Tapi bedanya paling cuman beda-beda angka sama maksud aja, intinya sih sama.

Dari pengalaman saya UN ini makin ngerasa dibodohi. Dimana 3 tahun proses kita belajar hanya dinilai dalam waktu 90 menit. Melihat hasil UN pun keluarga saya tidak surprise karena sudah biasa liat rapot saya yang warna-warni, hingga akhirnya mereka pasrah dan tidak berharap banyak saat kuliah. Pas kuliah pun tetap saja saya ga pernah nyatet, tidur dikelas, ga pernah ngerjain tugas, bedanya nilai IPK saya 3.85 yang membuat keluarga saya tidak berkutik, nilai yang lumayan jauh dibanding teman-teman sekelas dimana yang saya yakin nilai UN mereka jauh lebih tinggi dari pada saya.

Hingga akhirnya sampai skripsi pun saya buat penelitian mengenai kecerdasan emosional, judul idealis yang membuat saya butuh 3 semester untuk menyelesaikannya. Hanya ingin membuktikan secara statistik dan sains ternyata kesuksesan orang sama sekali tidak dipengaruhi oleh kecerdasan intelejensia. Mengambil data banyak profesor ternyata hidup sengsara dan banyak direktur/pengusaha sukses yang hanya lulusan SD bahkan tidak sekolah. Yang membuat saya tetap mengajukan pertanyaan.

Apa gunanya pelajaran disekolah? Apalagi UN?

Saya salah satu fans berat Pak Jusuf Kalla, namun saat dia menjawabat wakil presiden, beliau pernah melontarkan pernyataan bahwa UN itu wajib. Padahal saya yakin beliau orang yang punya wawasan luas. Akhirnya saya coba berfikir lebih dalam lagi. Ternyata memang butuh alat ukur(benchmarking) standarisasi dalam pendidikan. Untuk alat ukur yah okelah, tapi apakah semua infrastruktur pendidikan di Indonesia sama? Ga usah jauh-jauh, radius 50 meter dari tempat tinggal saya masih ada SD yang atapnya bolong kok :D

Hal ini juga yang membuat saya sering berselisih dengan ibu saya yang seorang guru di SMAN 20. Dimana pola pikir ibu saya jauh bertentangan dengan saya, dan ibu saya selalu tidak berkutik pada saat saya berargumen mengenai kebodohan fatal sistem pendidikan di Indonesia. Kalau saya bilang pendidikan formal khususnya di Indonesia sangat tidak penting saya tinggal buka skripsi saya yang menggungkapkan fakta ternyata sukses tidak ada hubungannya dengan nilai diatas kertas atau proses belajar formal.

Karena kebiasaan otak saya yang kritis, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan seperti:

Kenapa bisa ada nilai agama? Memangnya keimanan seseorang bisa diukur dalam skala 0 sampai 10? Dimana 0 adalah total kafir dan 10 pasti masuk surga?

Belum lagi soal kewarganegaraan yang isinya tenggang rasa, toleransi, saling menghormati, dan lainnya. Bukannya saya hafal tapi memang kewarganegaraan tidak jauh dari hal-hal yang sebenarnya mengandung \”nilai\” yang sangat tinggi untuk kehidupan ketimbang pelajaran dengan angka dan rumus yang menjadi tolak ukur seseorang yang menguasai ilmu pasti lebih cerdas dibanding ilmu yang tidak pasti. Justru jelas lebih hebat dimana orang bisa menguasai yang tidak pasti(yang bisa ilmu ramal hebat berarti :D ).

Yang tak kalah lucunya adalah dimana UN sebenarnya sudah jelas-jelas di larang oleh Mahkamah Agung karena dinilai bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Keren memang negara kita, lemabaga peradilan hukum tertinggi dinegara ini, keputusannya bisa dicuekin sama pemerintah. Salut!

Inti masalahnya cuman satu. Pemerintah tidak mampu dan mau membuat sistem penilaian yang baik bagi pelajar. Hanya cari mudahnya saja, buat soal pilihan ganda, di cek secara komputerisasi, jadi deh nilai-nilai semu(alias bodoh) dari masing-masing siswa yang dijadikan acuan hadil belajar selama 3 tahun.

Mungkin teman-teman ada yang bisa memberi penerahan kepada saya khususnya untuk apa ada UN?

Kalau judulnya sebuah kebodohan penyelenngara maka silahkan cari tau sendiri siapa penyelenggara nya :D

Buat teman-teman yang sedang melaksanakan Ujian Nasional tetap semangat dan optimis, UN adalah hal kecil dari bagian hidup kalian namun mau ga mau kalian harus bisa melewatkannya. Kalau ga lulus masih ada kejar paket C kok :P


TAGS


Comment
  • Fleemiomypymn 5 years ago

    Terima kasih untuk blog yang menarik

  • erryandriyati 6 years ago

    Naaaaah…
    kalo yang ini gue setujuuuuuu banget :)

    Gue gak abis pikir KENAPA soalnya harus multiple choice???
    Itu adalah soal paling PEMALAS se jagat raya inih…
    Essai doooooong…

    *tukang mengarang dan banyak bacot sewaktu mengisi soal essai…hihihi…*

-

Author

Follow Me