Persaingan produk komputer lokal.. disaat yang beda hanya “label”..komunitas>branding

20 Apr 2011

Coba, berapa merk komputer lokal yang Anda ketahui?

242418_0_cinta_produk_lokal

Kalau saya pribadi awal kenal merk lokal yaitu Zyrex, karena buat saya merk lokal pertama yang saya tau yah itu. Setelah itu muncul BYON yang cukup kena buat saya karena waktu itu saya kepikiran ada ga laptop yang kayak PC bisa costumize ternyata ada BYON merk lokal yang secara design dan fungsi buat saya juga WAH.. harganya juga WAH, hingga akhirnya hanya bisa berangan-angan punya notebook BYON.. BYON sendiri singkatannya Build Your Own Notebook *Correct Me If Im Wrong*.. 3 tahun yang lalu saya dapet netbook Axioo Pico dari Ibu saya supaya saya makin lancar buat skripsi(antara ngasih sama nyindir anaknya yang ga lulus-lulus).. Dan si Pico tersayang sampai detik ini masih saya pake termasuk untuk ngetik tulisan ini.. Selanjutnya adalah Advan, merk yang sering saya lihat di Carefour dan beberapa sepupu saya menggunakan, karena harganya yang sangat terjangkau.

Makin kesini yang saya perhatikan kok spesifikasinya makin sama, khususnya antara merk lokal. Total yang beda hanya merk. Semenjak netbook muncul lah, seakan-akan produk PC mobile seragam, yang beda dari tiap merk bahkan hanyalah kapasitas harddisk. Semua netbook ada WiFi, webcam, processor intel atom, 1GB RAM, VGA Intel GMA. Yang beda jadi cuman casing aja sama tempat servisnya kalau rusak.

Semakin variatif juga jeroan sebuah PC. Kalau dulu hanya processor P4, namun setelah ada P4 dan AMD makin handal. Makin luas lagi variabel processor ada yang core 2 duo, quad core, ampe apalah itu. Dari graphic card apalagi. Intinya jaman saya SMA-Kuliah seneng banget lah baca majalah Chip, Infokomputer, dsb. Kalau sekarang yang ada mau muntah #lebay liat komparasi hardware yang semakin meluas.Pertumbuhan teknologi komputer mengikuti bilangan pangkat dimana setelah 2,4,8,16, … dst. Makannya setelah dual core, langsung quad core, tanpa triple core. Sedangkan dari segi harga makin murah. Saya ingat pertama beli flashdisk itu harganya 200rb untuk 1GB. Sekarang 2 GB? paling mahal 80rb. Itu juga udah mulai langka yang 2Gb.

Akhirnya saya cuman mikir. Dengan begitu banyak variasi dan pilihan harga apa manfaatnya buat saya?

Sejauh ini saja saya sudah nyaman dengan netbook. Karena bisa menyelesaikan pekerjaan dengan microsoft office, browsing, denger musik, nonton film, bahkan lancar untuk edit grafis pake Corel Draw X5 dan Photoshop CS 5. Gara-gara service kemaren malah diinstallin Windows 7 ma orang Axioo, walau driver WiFi nya harus saya cari sendiri karena memang lupa ngecek versi driver. But totally puas lah, rusak juga karena virus yang buat netbook ini suka mati sendiri dan akhirnya jebol mainboardnya. Dan setau saya mainboard part paling mahal, lebih mahal dari LCD. Lebih puas lagi dapet harga servis yang super terjangkau. Dan kalau untuk pekerjaan berat seperti editing video atau audio pasti lah pilihan pertama saya jatuh sama produk Apple, karena saya pernah coba langsung dimana ga perlu ribet-ribet install ini-itu semua sudah tersedia untuk editing video-audio secara profesional.

Balik lagi ke judul dimana banyak produk punya spesifikasi yang hampir sama, cuman beda merk, harga dan tempat servis. Lalu si pemilik merk atau vendor ini tugas utamanya hanya memasarkan produk donk? Yang bisa jawab ini hanya orang vendor sih.

Ditilik lebih dalam lagi ternyata walaupun tugas utama vendor yang me-label produk/brandnya sebagai lokal adalah memasarkan, tapi ternyata secara bisnis keselurahan tetap aja harus melakukan strategi lain untuk mempertahankan dan menambah costumer. Salah satunya yaitu bagaimana after sales/purna jual produk tersebut. Karena seperti kita ketahui produk komputer saat ini sudah seperti alat transportasi dimana sangat dibutuhkan untuk memudahkan pekerjaan pada khusunya dan komunikasi secara umum. Dah kayak handphone. Maka bila menggunakan analogi seperti alat transportasi, tentunya ada ga sih orang yang mau beli sebuah produk yang memang sangat bagus mau berapa pun harganya, tapi…. tempat servisnya langka dah gitu sparepartnya mahal. Kalau kita beli kendaraan kan bukan hanya memperhitungkan biaya saat membeli kendaraan tapi biaya operasional yang timbul karena penggunaan barang tersebut. Kalau laptop mungkin biayanya tidak terlalu diperhitungkan seperti listrik dan langganan koneksi internet. Tapi apa jadinya kalau laptop kita rusak? bisa dibayangkan betapa pusingnya. Seperti saat saya sedang skripsi ternyata laptop NEC saya bermasalah, sehingga ibu saya membelikan saya netbook(jadi yang pusing sih sebenernya ibu saya haha). Ga jauh saat kendaraan kita rusak bisa buat ribet juga.

Itu baru dari segi purna-jual. Sesuatu hal yang sangat standar namun vital. Lebih penting ketimbang penjualan itu sendiri. Kenapa? Karena ujung awal sebuah branding dari after sales. Maka maksuklah kita ke pembahasan B.R.A.N.D.I.N.G

Ini ada definisi branding yang saya kumpulin(jadi bukan saya yang bikin loh, hanya menrangkum):

Branding is what people think about your product/logo/brand. Branding creates from reputation that people give with emotion.

Jelas brand/merk adalah kata benda, dan branding sendiri merupakan kata kerja. Jadi branding yang membuat sebuah logo, nama produk itu seakan-akan memiliki kaitan emosi dengan orang banyak. Bagaimana simbol tristar menjadi mewah hanya karena itu lambangnya Mercedez Benz. Simpelnya imej kali yah?

Nah tentunya si branding ini selain dari aftersales yang baik, tentu ada cara lain. Ingat bahwa ini case dengan produk spesifikasi sama namun beda merk. Jadi tidak bicara Apple dengan Micsrosoft yang jelas keduanya punya segmentasi yang jauh berbeda. Tapi bagaimana dari yang sekedar merk menjadi brand image positif. Sehingga akhirnya orang BANGGA menggunakan suatu produk hingga merasa memiliki (sense of belonging) terhadap produk. Seperti yang banyak dijadikan case yaitu komunitas Harley Davidson.

harley-davidson-live-by-it-small-82554

Hehe buat yang nangkep, saya udah mengeluarkan dua buah keyword yaitu “Branding” dan “Komunitas”. Kenapa dua hal ini saling terkait erat? Jelas keduanya terkait erat walau hubungannya justru searah, dimana Komunitas dapat mempengaruhi sebuah Branding, tapi Branding belum tentu dapat mempengaruhi komunitas.

Image sebuah brand terhadap seseorang, entah itu positif maupun negatif dapat memiliki efek bola salju. Apalagi saat seseorang berbicara mengenai suatu produk dalam suatu komunitasnya, bisa memiliki efek multiply alias faktor kali. Si A cerita sama B dan C. Si B ngomong lagi ke B1 dan B2, begitu juga si C cerita lagi ke C1 dan C2. Bayangkan efeknya? Kalau positif sih enak, nah kalau negatif?

Biaya iklan, promosi, stand pameran dan banyak lainnya. Jujur hanya membuat saya ketawa. Ketawa karena semua itu hanya membentuk brand awarness alias buat orang hanya tau “owh ada merk laptop X yah”. Dengan biaya segitu besarnya. Balik ke definisi branding merupakan reputasi yang diberikan orang secara emosional. Artinya emosional itu bisa dibentuk karena adanya pengalaman. Salah satunya yah tuh orang pernah mencoba produk tersebut bahkan menggunakannya. Banyak contoh kok produk bisa sukses besar tanpa iklan yang massive, Mercedes Benz, Harley Davidson, Apple. Kalaupun saya lihat iklannya hanya dari youtube. Tapi kenapa bisa membentuk branding. Dan bagaimana branding bisa dibentuk justru lewat komunitas? Nah itu mah tanya guru saya pak @fajareridianto.

Mungkin segini dulu deh mengenai tulisan singkat saya mengenai Branding dan Komunitas(sedikit apanye? ini udah temus seribu kata lebih). Banyaklah tehnik dimana komunitas dapat membentuk branding. Dan tehnik ini sudah berjalan. Sengaja ga dibuka, nanti saya ngasih konsultasi gratis donk*ngarep ada yang mau narik gw jadi konsultan* hehe

Jadi sebenarnya budget promosi harusnya 50% lebih untuk komunitas ketimbang iklan. Tinggal cari cara mecah dana yang efektif dan siapa orang komunitas yang mempunyai influence tepat terhadap produk tersebut. Next tulisan, coba saya kasih definisi antara crowd, community dan organization. Serta apa sih yang membedakan influence dan populer. Pentingan mana? Nah, pantengin aja blog ini. Ato nunggu ampe ada yang mencet tombol “suka” dibawah ini ampe 100 baru saya buat tulisan lagi hahaha


TAGS branding komunitas selling kompetitor


-

Author

Follow Me