Guru, profesi yang tidak harusnya ada di Indonesia.(dan ga penting juga fungsinya)

10 May 2011

guru21

Berapa hari yang lalu saya lihat acara TV yg nama stasiunnya cmn 3 huruf,depannya M, belakangnya C. Seperti biasa acaranya musik-musik dangdut gitu. membuat saya heran ketika lihat audiensnya ternyata guru-guru sekolah. Yang saya tau bulan ini bulan pendidikan, tanpa tahu tanggal apalagi hari apa aja bulan ini. Kok perayaan untuk guru acara kayak gitu? saya sama sekali tidak mempermasalahkan dangdutnya, tapi acaranya musik. Kalau musiknya yang rada berhubungan dengan guru okelah,kayak OST-nya laskar pelangi. Ini dangdut yang entah liriknya apa.

Saya sendiri berapa waktu ini selalu bicara tentang bagaimana hukum internet berlaku, yaitu salah satunya kesetaraan(flat), intinya semua orang sama di mata internet yang beda hanya URL Address yang dibuka. Termasuk hak dalam mengakses informasi di internet. Ditambah saya bantu #roadshow Blogvaganza edukasi sehat ber-internet dan blog. Kadang jadi mikir:”ini mah udah pasti murid lebih pintar dari guru-gurunya“.

Ibu saya sendiri guru dan saat-saat ini selalu meminta saya membelikan laptop supaya tidak ketinggalan dalam teknologi mengajar. Saya bisa di bilang tahu lah bagaimana nasib guru yang sudah mengabdi puluhan tahun dari mulai ngajar tempat terpencil hingga tengah kota(iyalah gw anak guru). Dan inilah banyak yang membuat saya hampir tiap hari berdebat dengan ibunda saya tercinta ditambah makin tahu BOBROKNYA SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA. Saya ingat tahun kemaren lagi hangat-hangatnya sertifikasi untuk guru, ternyata buat guru sendiri sertifikasi = tambahan uang tunjangan. Nice, klo kayak gini yang ngaco guru-guru atau pemerintah sebagai pembuat sistem?

Saya juga sering baca modul kompetensi peningkatan tehnik pengajaran untuk guru. Dan 1 hal, seringkali bila ada take home assessment paper, itu yang mengerjakan saya. Ibu saya hanya bertugas mengumpulkan ke pihak berwenang(saya juga ga pernah nanya yang ngasih modulnya siapa), jadi yang jawab soalnya saya, yang ngeprint saya juga. Guru juga manusia dengan segala kekurangan , keterbatasan dan sifat yang sangat “kemanusiaan” lainnya. Bedanya mereka jaim(jaga image) karena guru harus berwibawa supaya dihormati. Sungguh ironis. Lebih ironis lagi modul peningkata mutu mengajar isinya tehnik manajemen mengajar yang waktu saya kuliah aja udah ga di pake saking jadulnya. Orang-orang yang ngurusin kompetensi guru rada lama updatenya atau udah kelewat pada jadul? hehe

kalau saya karena orangnya cuek dicampur visioner, untuk pengajaran yah saya menggunakan bahasa suka-suka saya, malah saya tidak segan memunculkan image bahwasannya saya sangat porn minded. Dan sejauh ini tidak pernah ada masalah, malah berjalan melebihi yang saya bayangkan. Pada akhirnya orang respect(apa yah padanan kata bahasa indonesianya?) kepada saya bukan dari wibawa yang saya sama sekali ga punya. Tapi karena sikap, prinsip dan nilai yang saya sampaikan ketimbang isi materi keilmuan.

Dari saya mulai TK sampai lulus sarjana saya bisa dibilang punya guru ga lebih dari 10. Padahal secara kenyataan pasti puluhan lah. Karena saya hanya menganggap seseorang itu guru ketika mereka memberikan pelajaran mengenai kehidupan yang bersifat nilai dan itu saya jalani sepanjang hidup saya.

Namun lihat lah bagaimana sistem pendidikan sekarang? yang penting materi, materi, materi. Menjadikan bangsa Indonesia yang masyarakatnya pintar, bukannya menjadikan bangsa yang dihargai karena budi pekertinya luhur. Saya masih ingat waktu SD ada 9 mata pelajaran di rapot, belum lagi di tambah 4 mata pelajaran saat SMP. Ampe hari ini saya masih mikir apa gunanya sekian tahun lama saya belajar buat hidup saya?

Kalau ada anak sekolah nanya ke saya kenapa mereka harus belajar matematika,fisika dan lain-lain walau pun mereka memastikan diri tidak akan mau jadi ilmuwan. Jawaban saya hanya: gunanya melatih logika berfikir supaya kalau punya masalah hidup, otak kita sudah tau bagaimana mencari solusi. Hanya itu jawaban terbaik yang saya punya, walaupun ada kalimatnya saya potong,dimana kita butuh kreatifitas untuk bisa punya banyak pilihan hidup. Dan sekolah tidak melatih kreatifitas, tapi justru mematikannya. contohnya penggunaan seragam dan sepatu yang HARUS sama. Kretifitas = berbeda. Perbedaan itu berbahaya dalam sekolah. Kalau jawaban kita dengan guru tidak sama walaupun jawaban kita benar apakah membuat kita selamat atau tamat? Perbedaan harus ditoleransi hanya ada di buku kewarganegaraan/PPKn.

Dengan adanya internet apa aja kita bisa cari,bahkan seseorang bisa jauh lebih pintar dari yang mempunyai gelar formal hanya dengan modal search di gugel. Sedangkan guru-guru di Indonesia berapa rata-rata mereka gugling per hari? itu pun guru-gurunya masih merasa pintar,atau muridnya aja bodoh tidak ada yang inisiatif searching materi pelajaran di gugel.

Semua yang saya anggap guru mereka punya pola yang sama. Rata-rata di awal pertemuan mereka cuman bilang: “terserah kalian mau belajar dari mana. Mau beli buku atau ga juga silahkan, yang penting punya refrensi. Karena saya juga masih baca buku-buku refrensi. Kalau hanya belajar kalian bisa lakukan di rumah, dikelas ini kita saling bertanya dan diskusi“, selain itu guru-guru saya ini, mereka di awal pelajaran selalu ada saja cerita pengalaman pribadi yang dibagi dikelas dari mulai masalah anak sampai kelakuan mahasiswanya di kampus lain. Mereka lebih banyak memberi nilai-nilai ketimbang “menilai”.

Kalau menurut Anda sendiri apa sih fungsi guru?


TAGS


-

Author

Follow Me