Pemerkosaan diangkot versus topeng monyet versus Komplek OR SBY

20 Sep 2011

Sebenarnya ada 3 trending topic media saat ini. Soal pemerkosaan di angkot yang terjadi di Jakarta, demo expat mengenai topeng monyet di Bunderan HI dan penggantian nama area Sea Games Jakabaring menjadi SBY.

Lalu, mana dari 3 topik tersebut yang paling tidak penting?

Klo ditanya mana yang tidak penting, mending Anda yang jawab. Yang pasti soal pemerkosaan di angkot tidak ada yang spesial saat Gubernurnya sendiri tidak sensitif, dan sudah sangat jelas bahwa kepentingan umum harus dikelola pemerintah bukan dilepas seperti angkot, jadi yah semerawut+pemerintah manapun saya perhatiin tidak peduli juga, toh mereka juga tidak ada yang naik angkutan umum. Bahkan tau daerah yang dipimpinnya macet cuman dari media. Alhamdulillah ga semua pejabat seperti itu, masih ada lah dibawah 1%, seperti wagub daerah saya ;)

Intinya kalau transportasi masa khususnya dalam kota, sudah seharusnya dikelola pemerintah dan contoh yang berhasilnya adalah transjakarta(busway), dengan transportasi yang nyaman, kemacetan berkurang, dalam kata \”nyaman\” udah pasti keamanan juga terjamin. Yah lagi-lagi saya gak ngerti pola pikir pejabat daerah. Jadi soal pemerkosaan beres di bahas dalam 2 paragraf. Gak pake ribet soal kaca film atau rok mini.

Selanjutnya adalah demo expat mengenai protes topeng monyet. Menjadi pertanyaan ketika orang expat demo di negara orang, lebih heran lagi protesnya karena bentuk kepedulian terhadap hewan. Terlihat memang orang Indonesia cendrung tidak peduli(salah satunya ya seperti saya ini). Fenomena topeng monyet dijalanan ini bukan hanya di Jakarta, saya yang tinggal di Bandung sering menemui pengamen di persimpangan jalan yang menampilkan atraksi topeng monyet.

Dan saya sempat berfikir bahwa bila monyet dijadikan alat untuk pengamen maka yang salah adalah pemberi uang atau monyetnya? Tapi ternyata saya salah karena monyet tak dapat disalahkan. Ada faktor lain yaitu si abang topeng monyetnya ini. Mungkin masyarakat kita terlalu di brainwash oleh para motivator,financial planner atau bahkan seminar MLM. Selalu digembor-gemborkan mengenai passive income alias mendapatkan uang tanpa bekerja. Bila dulu topeng monyet berkeliling di pemukiman lalu berhenti di satu titik dan melakukan atraksi, sekarang hanya membutuhkan spot tikungan perempatan bahkan separator jalan yang lebarnya kurang dari 1 meter sudah cukup untuk mengamen dengan topeng monyet. Monyetnya beratraksi,bahkan bila kita melempar uang ke jalan si monyet yang memungut uangnya. Abang topeng monyet hanya duduk manis dan memukul alat musik,bahkan kedepannya bisa menggunakan MP3 player agar lebih total menerapkan sistem penghasilan pasif.

animal abusetopeng monyet

Ok, mari kita lupakan tentang korelasi cashflow quadrant Robert T. Kiyosaki dan Topeng Monyet. Semalam saya liat hot thread di kaskus mengenai demo expat mengenai topeng monyet, yang menarik adalah komentar-komentarnya. Dari mulai dukungan sampai yang bilang orang-orang bule yang demo adalah orang-orang sok tahu, standar ganda dan lain sebagainya. Akhirnya saya coba telusuri ternyata ada beberapa video dokumenter yang bernarasi bahasa inggris mengenai pelatihan monyet sebelum dijual untuk dijadikan topeng monyet. Yang paling miris adalah cara melatih agar monyet tersebut bisa berdiri dengan dua kaki, ternyata monyet tersebut digantung lehernya dengan rantai yang pas jarak tingginya dengan posisi berdiri si monyet. Mau tidak mau monyet harus tetap berdiri berjam-jam,karena bila tidak berdiri otomatis leher monyet tersebut akan tercekik. Tak kalah sadisnya dalam melatih, dalam melakukan atraksi supaya monyet tersebut melakukan hal yang sesuai dengan perintah caranya dipukul kepalanya dengan kayu, berhenti dipukul sampai dengan melakukan sesuai perintah sang pelatih. Dan latihan ini dilakukan delama 4-6bulan sebelum dijual.

Ada komentar lagi di kaskus dari sudut si abang topeng monyet(saya ga ngertti harus memberi predikat apa kepada si pemberi perintah topeng monyet. dibilang operator juga bukan, jadi kita sepakati saja dengan \”Abangnya Monyet\”), saya curiga yang komen itu abang topeng monyet, karena isinya adalah yang penting usahanya halal, kalau mereka gak main topeng monyet siapa yang mau kasih nafkah? lagipula atraksi topeng monyet kan tradisi.

Klo dilihat dari sisi abang topeng monyet apakah bisa jadi pembenaran mencari nafkah dengan menyiksa hewan, baik secara langsung maupun tidak? kalau bicara pembenaran saya jadi teringat kasus mengenai penutupan komplek lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, dan lagi-lagi pembenaran mengenai urusan perut yang digunakan. Seperti kita ketahui bersama adalah sulitnya mencari kerja di negeri kita tercinta ini, sampai segala cara pun dilakukan, dari kriminal sampai dengan perusakan lingkungan. Lalu harus menjadi tanggung jawab siapa? Pemerintah? ahh buang-buang tenaga. Kalau saya pribadi sih yakin, saat keadaan semakin terdesak bila dalam lingkup tulisan ini adalah adanya ketegasan pelarangan penggunaan hewan atau anak kecil untuk mengamen maka pasti ada kreatifitas yang muncul dan tentunya positif. Karena soal positif atau negatif mah balik lagi ke pribadi.

Lalu apa yang bisa membuat perubahan terhadap pengamen atau pengemis dengan dimulai dari kita sendiri, yaitu dengan tidak memberikan uang berapapun kepada pengemis/pengamen. Bukan mengajari tidak dermawan, tapi bila tidak ada lagi yang mau memberikan uang di jalan maka saya yakin tidak ada lagi pengemis dijalan karena bila saya jadi pengemis juga untuk apa dijalan tidak akan ada yang memberi. Kalau saya pribadi sih mending kasih uang ke kotak mesjid atau lembaga yang berkompeten mengurusi uang zakat-amal.

Jadi diantara 3 trending topik berita saat ini, buat saya yang terpenting adalah soal topeng monyet. Untuk topik yang lain mah ga usah dibahas lah karena super ga penting. Untuk Anda mungkin ada yang punya cara sendiri untuk membuat perubahan terhadap pengemis?


TAGS


-

Author

Follow Me