Pentingkah sebuah nama perusahaan? (untuk jobseeker)

22 Sep 2011

Antrian Pelamar Kerja

Di Landmark Braga kemaren sampai dengan hari ini diadakan jobfair, expo yang isinya perusahaan yang menyediakan lowongan kerja dan isinya adalah para pelamar yang mayoritas fresh graduate atau bisa dibilang belum memiliki pengalaman kerja. Ini kali keberapa saya terjebak disini untuk jaga stand yang sebenarnya perusahaan yang saya jagain juga tidak membuka lowongan pekerjaan. Entah di tahun ini sudah berapa kali acara jobfair/careerday yang dengan berbeda judul dan penyelenggara di adakan di kota Bandung. Lalu apa yang spesial buat saya di jobfair kali ini? Ga ada sih, selain saya jagain anak perusahaan yaitu TelkomVision, biasa saya stay di stand untuk TelkomIndonesia.

Dan rata-rata calon pekerja yang mau mendrop CV mereka bertanya: “ini masih perusahaan Telkom?“, dan jawaban saya selalu:”Alhamdulillah masih, gatau deh kalau bentar lagi ditutup”. Selain pertanyaan tersebut yang paling sering diajukan adalah posisi yang tersedia dan kualifikasi yang diminta.

Karena ada pertanyaan tersebut lalu saya berfikir, memang segitu pentingnya nama perusahaan?

Disamping stand yang saya sampahi(soalnya saya tidak pernah merasa sedang kerja, malah numpang wifi aja disini) adalah stand dari Bank Indonesia, luar biasanya stand tersebut banyak yang antri dari mulai pintu dibuka pkl.10.00 sampai 15.00. Iseng saya tanya stand BI ternyata hanya mencari 20 orang, tapi yang mengantri sampai 15 meter lebih(foto antriannya di atas).

Lalu yang saya heran sebenarnya apa sih yang pekerja cari dari sebuah perusahaan? Gengsi? Gajih? atau Pencapaian?

Kalau ditanya kenapa saya di Telkom, karena saya butuh perusahaan untuk ditumpangi promosi web content yang saya kelola. Jadi yang penting saya bekerja dan menuangkan ide semaksimal mungkin sehingga Telkom melakukan lebih banyak acara promo dan produk saya numpang(tentunya), bos dan rekan saya dikantor pun tau tujuan saya karena dari awal saya bilang sebelum bergabung. Mau ke kantor mau ga juga gimana saya, yang terpenting tanggung jawab dan jobdesk dikerjakan dengan hasil super maksimal. Bukan nama perusahaan, jabatan, bahkan gaji buat saya yang terpenting, tapi pencapaian diri, apa yang bisa saya lakukan di suatu tempat.

Mungkin para caon pelamar punya persepsi masing-masing dengan sebuah nama perusahaan. Dari sisi skala tempat, bidang industri, sampai status perusahaan(BUMN/Swasta). Beberapa calon pekerja yang saya tanya mayoritas mempersepsikan bahwa bekerja diperusahaan/lembaga pemerintah adalah hal yang paling aman. Meski gaji kecil tapi “penghasilan” lebih besar, beban pekerjaan tidak terlalu berat, kemungkinan di PHK sangat kecil, dan yang terakhir adalah adanya tungjangan dan uang pensiun. Padahal buat saya yang paling aman adalah di rumah tidur!

Kalau jobfair kali ini lumayan cukup beradab lah. Kenapa bisa dikatakan beradab? Karena AC ruangannya bekerja dengan baik, banyak kursi untuk sekedar duduk santai. Bayangkan banyaknya pengunjung dalam satu ruangan ditambah tidak adanya sirkulasi udara yang cukup? Yang saya heran pengunjung karir expo selalu ramai pengunjung, padahal tiap pengunjung dikenai biaya 15-25ribu rupiah untuk dapat masuk area expo. Belum tentu keterima kerja tapi sudah harus membayar? Memang dimana-mana bisnis yang menjual mimpi itu selalu sukses, contohnya togel(judi) dan inilah karir expo.

Saya jadi teringat waktu mengisi panggung karir expo 2 acara sebelumnya. Dimana tiap perusahaan pengisi expo mendapat kesempatan diatas panggung menjelaskan mengenai perusahaan dan deskripsi pekerjaan yang dibuka lowongan, saya yang notabene perwakilan dari Telkom justru sama sekali tidak menjelaskan mengenai Telkom, malah berbicara mengenai cara mendapatkan pekerjaan melalui social media tanpa harus capek-capek melamar atau bahkan buat CV, karena hal tersebut saya alami sendiri bisa bergabung di Telkom tanpa melamar atau buat CV, hanya berawal dari perkenalan di social media. Selain itu dalam persentasi saya di karir expo saya beberkan bahwa Telkom itu tidak pernah membuka lowongan, jadi sia-sia lah yang menaruh CV ke meja Telkom. Lalu bila tidak buka lowongan untuk apa buka stand di karir expo? Jawabannya karena Telkom support acara sehingga dapat stand gratis. Dan hasilnya setelah seminggu saya berbicara, bos saya memberitahukan bahwa dia ditegur penyelenggara acara karena isi persentasi saya, dan respon saya hanya tertawa karena saya tahu bos saya sendiri juga bodo amat dengan yang saya lakukan :D

Tidak terbayang bila dinas atau lembaga pemerintah buka stand juga untuk penerimaan CPNS, saya yakin pengunjungnya akan melebihi penonton konser band Ungu dan dijamin ada yang pingsan.

Balik lagi ke judul. Bicara soal nama perusahaan sama dengan nama sekolah/kampus dan selalu teringat perkataan guru SMA saya waktu kelas 3, dimana saya dan teman-teman lain mulai memilih melanjutkan di universitas mana. Guru saya cuman bilang:

Pilihan kalian mau jadi rakyat jelata disebuah negara besar, atau seorang raja di daerah yang terpencil. Ga perlu bangga bila kalian masuk perguruan tinggi negeri, lebih baik masuk kampus ga terkenal tapi bis berprestasi diluar.

Mendengar kalimat tersebut saya langsung daftar di 1 kampus swasta tanpa pernah coba tes perguruan tinggi negeri, padahal 85% teman saya dari SMA masuk perguruan tinggi negeri/akpol/akmil, sisanya lanjut ke luar negeri dan saya masuk golongan 1 persen yang ke swasta, lebih hebat lagi saya masuk universitas swasta yang gedungnya belum jadi. Sehingga saya dengan mudah dapat IPK Cum Laude dan menjadi pemimpin organisasi yang saya buat sendiri(karena memang belum ada).

Sama seperti mencari kampus, mencari perusahaan tempat dimana kita akan mulai bekerja sama pentingnya. Yang berbeda adalah saat mencari kampus, kita berkomitmen untuk berada disitu sampai dengan jangka waktu menyelesaikan studi. Sedangkan bekerja, apakah kita mau seumur hidup mengerjakan hal yang sama dengan suasana yang sama? Jadi sebenarnya pola pikir yang harusnya dibangun para calon pencari kerja adalah mencari tempat yang dapat mengembangkan bakat dan kepribadian, dimana ide, pemikiran dan interaksi sosial dapat dibangun dengan baik, ketimbang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam bisnis, para wirausaha selalu dihadapkan pada pilihan berbisnis hanya untuk mencukupi biaya hidup atau perkembangan exponensial. Kalau dalam materi seminar saya “Social Media for Personal Branding”, saya menjelaskan bahwa setiap diri dari kita adalah direktur dari sebuah perusahaan bernama “Saya”. Jadi apapun dan dimanapun kita, selalu jadilah yang terbaik karena selalu ada orang lain yang melihat, menilai dan membicarakan kita entah baik maupun buruk. Kalau kita pekerja dan melakukan tindakan briliant tentu akan ada perusahaan lain yang berusaha “membajak” kita. Pola di Indonesia yang terjadi pada pekerja bila ingin mendapat pekerjaan lebih baik hanyalah pindah perusahaan. Namun sering kali diri kita merasa kecil saat kita bekerja diperusahaan kecil, padahal diri kita sama sekali tidak berhubungan dengan nilai perusahaan tempat kita bekerja.

Okelah karena kali ini yang jadi dasar ide adalah acara karir expo, maka sekali-kali bahas tentang kerja. Biasanya saya lebih mencecar pekerja untuk bisa jadi wirausaha. Jadi, menurut Anda sendiri apakah masih penting nama persuahan?


TAGS


-

Author

Follow Me