Akademi Berbagi : Suksesnya Romantisme Lokal Keripik Pedes Maicih

27 Sep 2011

Hari jumat minggu kemaren, saya mendapat tugas dari Blogvaganza.com untuk melakukan peliputan kegiatan Akademi Berbagi, yang diadakan disalah satu ruang Comlabs Institut Teknologi Bandung. Tepat pukul 19.00 pemateri membuka sharing. Kali ini yang berbagi pengetahuan adalah @bobmerdeka yaitu founder keripik pedas Maicih yang sangat fenomenal. Jujur saja dari siang, setelah saya mendapat tugas peliputan sudah setengah hati niat datang, hanya mau ambil poto lalu pulang. Setengah hati karena sesukses apapun Maicih saya tidak akan pernah tertarik mengkonsumsi, karena pada dasarnya saya tidak bisa memakan makanan pedas sedikit pun. Ini malah dapat tugas meliput dan terbayang betapa membosankannya didalam ruangan membahas keripik pedas. Ternyata di dalam saya bertemu dengan teman SMA saya disana, jadi ada yang membuat saya bertahan disana(setidaknya).

Awal melihat Kang Bob Merdeka rada kaget juga karena masih muda, walaupun sebelumnya Kang Dicky (admin @infobandung) pernah bercerita kepada saya bahwa pemilik Keripik Pedes Maicih masih muda. Bayangan saya pengusaha muda yang beromset ratusan juta memiliki penampilan parlente dengan muka hedonisme. Namun saya salah besar, Kang Bob yang saya lihat sangat biasa dari segi penampilan yang dia pakai, celana jeans, sepatu kanvas dan kemeja lengan panjang, gaya layaknya pemuda Bandung rata-rata.

Apa yang membuat Maicih fenomenal?

Itulah pertanyaan pembuka Kang Bob. Dimana-mana pemateri menjelaskan, lalu tanya jawab, ini malah bertanya kepada peserta. Dan banyak jawaban dari mulai kreatifitas, rasa, pengaruh sosial media, branding, strategi marketing, packaging, dan banyak lagi jawaban yang keluar seperti yang pernah saya dengar dari mulut dosen saya. Ternyata sodara-sodara, kalau menurut Kang Bob sendiri, yang membuat fenomenal adalah romantisme. Mendegar kata romantisme, saya dalam hati berkomentar:”Heh, romatisme? Apa yang romantis dari seonggok keripik pedas? Wah ngaco nih orang

Romantisme yang dimaksud adalah kerinduan orang terhadap hal-hal yang memiliki kaitan emosi. Contohnya jajanan tradisional. Bob Merdeka memiliki ayah berasal dari Bogor, Ibu dari Garut dan tumbuh di Bandung, sangat bangga terlahir dengan budaya Sunda maka Kang Bob berfikir bagaimana cara mengangkat jajanan kampung bisa menjadi makanan ringan berkelas dan disajikan kembali di rumah-rumah perkotaan.

Tidak ada yang istimewa dari keripik pedas.

Cara buat, bahan dan bumbu keripik pedas sebenarnya mah gitu-gitu aja. Tapi bukan keripik pedasnya yang menjadi visi saya. Visi saya bagaimana mengangkat budaya lokal“, demikian penjelasan Kang Bob yang membuat saya bertanya:”Ini yang bicara pebisnis apa kepala dinas pariwisata dan budaya sih?“.

Berkali-kali Kang Bob menekankan mengenai pentingnya mengangkat budaya lokal dan mengajak para peserta untuk ikut mengangkat budaya lokalnya masing-masing. Dia pun mengingatkan bahwa jangan sampai budaya daerah kita di klaim oleh pihak luar, karena sering kali kita tidak peduli berharganya budaya lokal sampai diklaim pihak luar baru merasa memiliki.

Perpecahan, kenapa harus ditutupi?

Pada sesi tanya jawab ada peserta yang menanyakan apa bedanya @maicih dan @infomaicih. Kang Bob pun bercerita bahwa pada awalnya usaha keripik pedas Maicih ini dimulai bersama dengan adiknya, namun ternyata karena perbedaan visi akhirnya pecah. Bila banyak orang menutupi bahwa usaha/timnya pecah karena mungkin takut dianggap gagal, justru Kang Bob dengan santai menjelaskan bahwa memang ada 2 versi keripik pedas maicih, namun sebenarnya berbeda baik secara rasa, logo dan kualitas. Jadi sebenarnya tidak ada yang asli dan yang palsu, hanya berbeda.

Pesaing dan titik jenuh konsumen.

Pertanyaan lain yang diajukan audiens adalah mengenai banyak bermunculan keripik pedas dengan model penjualan seperti Maicih dan bagaimana bila titik jenuh konsumen terhadap Keripik Pedas Maicih terjadi. Kang Bob menjawab bahwa terjadinya persaingan adalah pertanda yang baik karena produk tersebut memiliki pangsa pasar dan permintaan yang tinggi sehingga pesaing muncul untuk turut mengambil kesempatan. Berapa pun pesaing yang muncul justru mengingatkan Maicih sebagai pemimpin pasar untuk harus terus terjaga terhadap pesaing dan membuat langkah yang jauh didepan para pesaing. Sebagai contoh metode pemasaran Maicih yang awalnya dilakukan dengan mobil yang berhenti dipinggir jalan lalu metode ini ditiru oleh para pesaing, Maicih sendiri ternyata telah menggunakan metode lain dalam melakukan pemasaran, selain itu Maicih juga melakukan Corporate Social Responsibility dan juga meng-endorse musisi lokal sebagai brand ambassador Maicih, dan hal tersebut belum dilakukan oleh pesaing. Karena yang mengkonsumsi produk adalah konsumen, maka pada akhirnya dengan munculnya para pesaing konsumen sendiri yang mengetahui mana yang terbaik, jadi sebagai pemimpin pasar tidak perlu khawatir dengan persaingan selama terus berfokus pada kualitas.

Mengenai titik jenuh konsumen ternyata Kang Bob sudah memikirkannya dari awal usaha, sehingga sudah mempersiapkan tim yang bertugas melakukan inovasi produk dan juga tim kreatif branding. Kang Bob menjelaskan mengapa tidak mudah mencari orang yang dapat menjadi tim kreatif Maicih, dikarenakan Kang Bob ingin orang yang dapat mengkreasikan Maicih menyukai produk itu sendiri dan juga mengetahui filosofi produk. Jadi tidak mudah mencari orang yang pintar dalam kreasi produk, tapi yang terpenting mengetahui filosofi Maicih.

Gagal bisnis, berhutang ratusan juta, lalu sukses dengan modal 50 ribu rupiah.

Ada peserta yang penasaran apakah Maicih pernah mengalami kegagalan, karena brand Keripik Pedas Maicih walau baru berusia 1 tahun 3 bulan telah mengalami berkembangan yang fenomenal. Merespon pertanyaan tersebut lalu Kang Bob mulai bercerita awal bisnis Keripik Pedas Maicih dari mulai membuat akun twitter dan membuat sebuah cerita dari tokoh fiktif bernama Maicih sampai perkembangan pemasaran Maicih yang sudah merambah berbagai daerah. Walau bisnis Keripik Pedas Maicih ini di awali dengan modal 50 ribu rupiah untuk membeli keripik lalu menjualnya lagi sampai mendapat omset besar, ternyata kegagalan pria yang berusia 26 tahun ini dialami dari usaha-usaha yang dimulai dari usia 19 tahun. Mulai dari usaha baju,MLM,event organizer, bengkel dan banyak lainnya, bahkan ada yang sampai meninggalkan hutang ratusan juta dengan modal awal usaha puluhan juta, dan sempat berada di titik menyerah sebagai pengusaha dan memlih mencoba mencari kerja, namun ternyata bisnis yang sekarang membuahkan hasil malah dari modal 50 ribu rupiah.

Sukses akan menemukan jalannya sendiri

Demikian pemirsa*emangnya ini siaran TV?* rangkuman pribadi saya dari acara Akademi Berbagi yang diisi oleh Bob Merdeka makin memperkuat apa yang banyak orang sukses ajarkan:

  1. Sukses akan menemukan jalannya sendiri. Yang luar biasa dari sini adalah keberhasilan Keripik Pedas Maicih yang fenomenal ternyata hasil dari banyak kegagalan usaha-usaha sebelumnya. Bahkan Bob Merdeka sendiri tidak pernah membayangkan usaha dibidang jajanan tradisional.
  2. Sukses ada dititik terdekat dari keputusan menyerah. Hutang usaha ratusan juta yang mebuat Bob Merdeka hampir mengkhianati prinsip untuk tidak bekerja kepada orang lain, ternyata belum cukup membuat Bob Merdeka menyerah dan menjadi pekerja. Hingga membuktikan bahwa keputusannya untuk tetap berwirausaha adalah benar, bahkan berhasil justru dengan modal paling sedikit diantara bisnis yang pernah dibangun. Seringkali dari kita menyerah dalam suatu usaha, padahal sukses justru sudah sangat dekat.

Sekian re-share saya seadanya… dan selamat berawal pekan :)


TAGS


-

Author

Follow Me