Ponsel Windows Nokia Menjanjikan atau Menjijikan?

8 Mar 2012

barusan liat-liat komentar pro kontra “Ponsel Windows Nokia Menjanjikan?“, selalu menarik bila melihat komentar pro-kontra apalagi sama-sama fanatik dan berakhir pada caci maki, padahal kalau saya lihat forum-forum luar yang namanya memberi komentar bukan berdasarkan fanatik tapi benar-benar perhitungan objektif dan pengalaman.

yang lucu dari artikel detikinet soal pro-kontra adalah flaming hanya antara windows phone dengan android. padahal OS mobile phone yang banyak digunakan pengguna Indonesia adalah blackberry dan iOS, apa karena pengguna Android lebih kritis dan fanatik ketimbang OS lain? Atau OS lain juga rada percuma kalau komparasi dengan Windows Nokia?

Kalau saya sendiri akan melihat lahirnya keluarga Windows Nokia Lumia dari sisi pengembang aplikasi. Kenapa penting melihat dari sisi pengembang aplikasi? Karena smartphone hari ini tidak akan berarti apa-apa tanpa aplikasi. Berbeda dengan smartphone masa lalu dimana hanya ada Palm, Symbian dan Windows Mobile. Masa lalu orang memilih smartphone berdasarkan OS karena fitur handphone tergantung dari aplikasi bawaan OS. Saya dulu menggunakan IPAQ(HP) yang menggunakan Windows Mobile karena untuk keperluan office fiturnya mudah digunakan dan sinkronisasi dengan PC Windows.

Kemunculan iOS dan Blackberry cukup membawa perbedaan bagi dunia persilatan smartphone, semenjak OS mempunyai application store maka pengguna pemula dapat dengan mudah mengkostumasi smartphone sesuai dengan keinginannya, tidak hanya tampilan tapi juga peruntukan penggunaan bisa lebih ke komunikasi, office atau gaming. 3 tahun yang lalu saat OS smartphone yang terbesar adalah iOS dan Blackberry, lalu saya lihat peruntukan penggunanya maka saya simpulkan kalau iOS itu lebih kepada produktifitas+penampilan sedangkan Blackberry lebih ke komunikasi.

Yang membuat saya mengejutkan adalah Android, dimana dalam waktu kurang dari 2 tahun semenjak resmi masuk persaingan smartphone langsung memimpin persaingan. Jangankan membayangkan Android dalam waktu cepat menggunguli iOS, mengungguli Blackberry aja udah sesuatu banget. Coba saya perhatikan lagi ternyata jumlah aplikasi yang mendukung sebuah OS berbanding lurus dengan peningkatan penggunanya. Beberapa tahun terakhir aplikasi terbanyak dimiliki oleh iOS dan diakhir tahun 2011 Android mengungguli jumlah total aplikasi. Perkembangan jumlah aplikasi Android yang sangat cepat menjadi hal wajar ketika siapa saja dapat dengan mudah membuat aplikasi Android dan memasukannya kedalam official app store (Android Market) secara gratis. Berbeda dengan iOS dan Blackberry yang harus membayar lisensi agar aplikasi yang dibuat dapat masuk kedalam app store resmi(Apple Store/Blackberry App World). Bahkan karena Google memudahkan pengembang aplikasi Android, banyak pendukung pembuatan aplikasi yang memungkinkan orang bodoh seperti saya yang tidak pernah belajar pemograman dapat membuat sebuah aplikasi Android.

Seperti pertanyaan duluan mana tercipta ayam atau telur, sama dengan korelasi banyaknya pengembang aplikasi dengan banyaknya pengguna suatu OS. Saya dan teman-teman pernah membahas mengenai arah yang akan kita kembangkan untuk aplikasi dan semuanya setuju untuk tetap fokus di Android dan iOS karena melihat prospek ke depan jumlah pengguna. Kami berpendapat untuk apa membuat aplikasi dari sebuah OS yang penggunanya sedikit? Mungkin pendapat ini sama dengan pendapat beberapa teman pengembang lokal Android lain yang membuat program di Android karena memungkinkan untuk berkarya dengan sumber daya yang terbatas. Dan namanya karya tidak melulu berbicara mengenai harga/uang. Itulah mengapa jumlah program gratis untuk Android paling banyak ketimbang OS lain. Saya teringat ada musisi yang berpendapat cara untuk memerangi pembajakan yah dengan menggratiskan sebuah karya.

Gratis = Rugi ?

Ada buku yang mengawali saya tertarik menjadi pengembang aplikasi adalah “Free: The Future of Radical Prices” karangan Chris Anderson. Inti bukunya adalah mengungkap bagaimana harga gratis justru mendapatkan keuntungan yang terbesar dan dibuktikan dengan perusahaan seperti Google dan Facebook. Apakah kita pernah membayar 1rupiah pun kepada Facebook/Google? Dan kita juga tau bahwa 2 perusahaan terbesar tersebut memberikan layanan sepenuhnya gratis kepada pengguna.

Hubungan gratis dengan OS Smartphone?

Yang menarik lagi dari Android adalah OS ini bisa digunakan oleh smartphone merk apa pun tanpa perlu membayar lisensi, sehingga vendor perangkat bisa fokus kepada pengembagan perangkat keras. Berbeda dengan Blackberry dan iOS hanya terdapat pada perangkat yang mereka keluarkan sendiri.

Cukup menarik lagi berbicara psikologi konsumen Indonesia khususnya konsumsi barang teknologi dimana handphone itu adalah gaya hidup yang dapat menentukan seseorang “gaul” atau tidak. Buat saya hadphone itu ga penting merk/jenis tapi lebih ke penggunaan, handphone monochrome pun bisa lebih berharga bila dengan handphone tersebut bisa menghasilkan transaksi bisnis milyaran, ketimbang handphone mahal yang fungsinya hanya untuk “ha-ha,hi-hi”, bahkan belum tentu ada pulsanya dan tidak ada yang salah juga dengan pola konsumen Indonesia.

Kita bisa lihat konsumen Indonesia kebanyakan tidak punya pendirian atau ikut2an adalah ketika dulu booming handphone Nokia, lalu tahun kemaren Blackberry dan iPhone yang rada susah booming kerena harganya yang sulit merakyat. Sedangkan Android membiarkan persaingan ada pada vendor perangkat sehingga terjadi variasi harga yang sangat lebar dari ratusan ribu sampai dengan di atas 5jt rupiah, tentu dengan berbagai macam model dan spesifikasi.

Kenapa aplikasi menjadi ujung kesuksesan OS smartphone?

Saya melihat ada teman-teman saya yang membeli handphone hanya karena aplikasi, seperti teman yang membeli Blackberry untuk Blackberry Messenger. Dan yang tadinya menggunakan Blackberry berganti ke iPhone karena suka dengan instagram. Bahkan banyak saya temui orang membeli tablet hanya untuk bermain Angry Bird atau online poker.

Melihat begitu banyaknya pengembang Android sehingga vendor perangkat non-Android mencari cara untuk “menstimulasi” pengembang Android mau turut mengembangkan aplikasi perangkatnya. Seperti Blackberry yang memberikan PlayBook gratis untuk pengembang aplikasi dan Nokia yang rajin mengadakan lomba application development.

Dan buat tim kami uang bukan jadi tujuan untuk berkarya makannya kami sama sekali tidak tertarik dengan blackberry dan windows. Jadi walau Google tidak memberikan insentif atau mengadakan lomba kami tetap tertarik mengembangkan aplikasi Android yang saat ini memiliki komunitas pengguna yang terbesar. Tentunya saya hanya mewakili dari sekian banyak pengembang aplikasi. Buat yang skeptik nanya udah buat karya apa, dari tadi di blog nulis ngemeng panjang, ini saya google salah satu halaman mengenai ROM yang kami release di forum-forum luar untuk LG Optimus ME link dan tentunya ROM tersebut di release gratis+bisa dibuat tanpa mengetahui dasar pemograman framework Android dan yang skeptik lagi bilang ngopi, monggo di cek ;)

Lalu bagaimana dengan Windows Nokia Lumia?

Menurut penilaian saya yang super subjektif ini Nokia Lumia merupakan ponsel paling canggih, bila saja keluar lebih awal 2 tahun yang lalu. Saya sendiri belum pernah memegang secara langsung namun menurut kepala teknis tim saya Nokia Lumia ini tingkat kecanggihannya sama dengan Android yang kisaran 1juta.

Dengan harga Rp. 5,25 saya pun tidak akan pernah terbesit untuk membelinya. Semenjak Blackberry merajai ponsel lokal Indonesia, setiap Nokia mengeluarkan ponsel high-end selalu hanya berakhir di iklan atau halaman review majalah. Sekarang saya coba komparasi dengan smartphone Android dengan harga yang tidak jauh(beda hampir sejuta sih sebenernya hihi) yaitu Galaxy Nexus.

Dari segi perankat, dengan harga diatas 5 juta kenapa tidak ada kamera depan yah? Dimana Android yang kisaran 3 juta sudah ada kamera depan. Dari sisi prosesor Nokia Lumia 800 menggunakan 1,4Gz sedangkan Galaxy Nexus 1,2 Gz Dual-core Cortex A-9, otomatis secara kinerja 2x lipat lebih cepat ketimbang Nokia Lumia. Dan smartphone Android sudah banyak yang menggunakan procesor dual-core dengan harga di bawah 5 jt.

ini komparasi kuliatas kamera Nokia Lumia 800(8MP) dengan Galaxy Nexus (5MP) berdasarkan GSMarena:

Nokia Lumia 800(Nokia Lumia 800)

(Galaxy Nexus)

Dari sisi aplikasi bawaan OS Windows Nokia yang saya cari di Internet dan situs resmi Nokia Lumia, layanan yang diunggulkan Nokia Lumia adalah tampilan, akses sosial media dan office, web, gps, dll. Kok ga ada fitur baru yang menarik yah? Bacanya aja bikin ngantuk. Diharga yang sama Android seri Ice Cream Sandwich yang sudah saya coba, fitur yang cukup unyu adalah face unlock, jadi membuka layar bukan lagi dengan pin/gessture, cukup taro muka depan kamera lalu poto, lumayan menarik untuk yang narsis. Selain itu yang lebih wah lagi adalah kemampuan mengedit gambar secara live dalam artinya bila OS lain termasuk iOS photo diedit setelah di jepret, di ICS kita bisa mengedit terlebih dahulu sebelum menjepret, fitur yang sangat membantu untuk memotret muka yang pas-pasan karena bisa mengedit terlebih dahulu lalu mencari sudut poto yang pas. Selain itu fitur poto panoramik dengan cara pengambilan gambar secara video, biasa nya kan kalau poto panoramic dengan sudut lebar kita memotret objek minimal 3x dari sudut yang beda, ini kita cukup 1 kali tekan, geser handphone, jadi deh. Ini komparasi baru dari sisi fitur multimedia belum dari aplikasi, dll.

Balik lagi ke awal pro-kontra Windows Nokia, ada komentar fanatik Windows yang menanyakan bahwa apa OS yang digunakan pembaca lain? Komentar tersebut tersirat seakan-akan tidak perlu kontra dengan windows mobile karena PC nya juga windows. Padahal tidak ada korelasi antara OS PC dengan smartphone, kecuali yang fanatik dengan Apple. Kalau saya sendiri karena butuh OS PC yang simple, cepat, ga rewel+ ga pake ribet maka saya memilih Slackware(Linux). Dan ada yang komentar melihat dari jumlah karyawan Nokia yang bisa tetap hidup karena keluarnya seri Lumia, menurut saya lagi Android jauh lebih membawa banyak faedah karena siapapun(bukan hanya karyawan Google, bahkan Google mungkin tidak untung) dapat turut mengembangkan dan mencari ceruk rejeki dari framework OS berbasis Android.

Jadi kalau menurut Anda sendiri masih jaman gitu fanatik terhadap OS Smartphone? Atau ada yang punya pertimbangan sendiri terhadap memilih gadget?

Make The Better World With “Open Source”


TAGS nokia windows android komparasi pengembang aplikasi


Comment
  • Sentrino 5 years ago

    Terlihat tulisannya berkesan Pro-Android. Seharusnya sebagai reviewer kita harus memandang dengan mata lebar-lebar terhadap kedua belah pihak.

  • hendoko 5 years ago

    menurut saya kalau analisa di indonesia mungkin masih relative, karena konsumen yg tau akan model msh sbatas yg selalu update.

  • bowosoedadi 5 years ago

    Bagus artikelnya Mas, banyak membuka wawasan akan teknologi yang sekarang sedang berlomba-lomba memamerkan produknya. Postingan ini juga layak sekali sebagai bahan komparasi bagi konsumen yang ingin membeli handphone, dilihat dari banyak sisi.

-

Author

Follow Me