National Mentally Disorder dilihat dari kondisi jalan raya

3 May 2012

Beberapa hari yang lalu saya melihat hot threads di kaskus mengenai pengalaman salah satu warga Jakarta dengan judul “Saya Takut Hidup di Jakarta”, lalu saya cari sumbernya ternyata dari sebuah blog. Yang ada di benak saya setelah selesai membaca adalah ini hanya salah satu dari jutaan orang di Indonesia yang merasakan hal yang serupa. Dimana sebuah tindakan benar menjadi salah karena sebagian besar orang di suatu tempat menganggap yang salah adalah benar.

Teringat saat saya awal belajar dasar manejemen sumber daya manusia, dosen saya menyatakan bahwa untuk melihat pola hidup di suatu negara tinggal lihat bagaimana mereka berkendara di jalan raya, dan cara melihat di suatu tempat pemerintahannya korupsi adalah lihat kondisi jalan yang ada. Mendengar ucapan dosen, saya rada-rada tidak percaya sampai saat majunya teknologi internet lalu saya mencari bagaimana kondisi lalu lintas di luar Indonesia. Dan ternyata memang terjadi korelasi antara perilaku jalan raya dan perilaku masyarakat. Dimana jalan raya dapat menjadi salah satu indikatornya.

Blog tersebut menceritakan mengenai kota Jakarta. Memang dalam ilmu statistik 1 sample bukan berarti mutlak menggambarkan kesatuan objek(dalam hal ini adalah negara), namun kita mengetahui dimana kota Jakarta merupakan miniatur dari negara Indonesia, kota dimana menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, keuangan, bisnis dan masih banyak lagi keputusan strategis tercipta di Ibukota. Saya sendiri sekarang tinggal di Bandung, kota kelahiran saya. Setelah 13 tahun lebih saya tinggal di Jakarta untuk menuntut ilmu akhirnya memutuskan balik ke Bandung hanya karena Jakarta bukan tempat yang nyaman untuk hidup. Sampai sekarang pun saya heran mengapa orang tetap betah tinggal di Jakarta.

Dari segala macam masalah yang sehari-hari terjadi menjadi bagian hidup kita yang tinggal di Jakarta, dimana macet dan banjir adalah hal yang lumrah. Kota dimana warganya antara pasrah dan tidak peduli lagi terhadap pemimpin mereka. Dan pemimpin pemerintahan yang tidak peduli juga terhadap warganya. Padahal dalam pelajaran tata negara sewaktu SMA, salah satu fungi dari pemerintah adalah sebagai penjaga malam, dalam artian sistem yang memastikan seluruh warganya melakukan aktifitas dengan aman dan nyaman. Tapi kenyataan pemerintahan yang kita lihat bersama, malah maling dalam selimut yang justru menjaga kepentingannya masing-masing, seakan-akan hidup hanyalah saat ini, bukan untuk generasi berikutnya sebagaimana para cita-cita pendiri bagsa ini.

Setelah 4 paragraf di atas saya baru mau menjelaskan mengapa memberi judul “National Mentally Disorder”, karena lihat saja bagaimana keadaan negara ini dilihat dari hal yang terkecil yaitu jalan raya. Dimana orang berbuat benar malah disalahkan dan yang salah dibenarkan. Dan kalau disuruh menyalahkan pengguna jalan khususnya kendaraan pribadi, saya juga tidak berpendapat sepenuhnya salah pengguna jalan, peran pemilik kebijakan juga cukup besar mempengaruhi keadaan yang super semerawut ini.

Bagaimana pemerintah tidak menjadi penyebab terbesar kesemerawutan bila satu sisi menyalahkan orang memilih naik kendaraan pribadi namun di sisi lain membanggakan bagaimana naiknya perekonomian karena jumlah pemilik kendaraan pribadi terus meningkat. Yang saya sangsi adalah orang pemerintahan tersebut tidak belajar ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi sendiri sesungguhnya adalah ilmu mengenai cara pemenuhan kebutuhan hidup, uang dan barang hanyalah sebagian kecil dari alat ukur. Tapi yang terpenting adalah tingkat kebahagian seseorang, ini yang banyak orang menyangka ekonomi hanyalah ilmu mengenai angka dan keuangan. Kenapa parameter akhirnya adalah kebahagian? karena jelas kebutuhan saya dan Anda berbeda. Waktu harga cabai naik, saya menjadi orang tidak peduli karena saya tidak makan pedas. Begitu juga dengan menaiknya jumlah pemilik kendaraan apakah valid untuk mengukur tingkat ekonomi makro meningkat?

Bahkan dari situs the-marketeers di prediksi Indonesia akan menjadi negara dengan angka penjualan kendaraan tertinggi di dunia. Saat ini jumlah kendaraan terbanyak di dunia di pegang oleh Amerika, China kemudian Brazil. Begimane ceritanye mau membuat kota yang nyaman kalau pertumbuhan kendaraan tidak di rem? Selain itu infrastruktur angkutan massal yang layak juga tidak di bangun. Inilah mungkin yang di sebut bangsa ajaib. Menurut saya sih jelas pemerintah tidak peduli, karena mereka sendiri bukan pengguna angkutan massal.

Tadi kita baru bicara masalah sistem transportasi, nah sekarang bicara soal salah kaprah, dimana yang salah di anggap benar. Seperti melanggar lampu lalu lintas, sampai dengan menggunakan jalur yang tidak sesuai(mau belok tapi ambil jalur tengah). Untuk hal-hal yang bikin semerawut di jalan sebenarnya bukan hanya baru-baru ini terjadi, tapi sudah bertahun-tahun yang lalu, bedanya sekarang orang dapat dengan mudah dan cepat untuk mendapat informasi, ditambah memang jumlah kendaraan yang meningkat pesat. Jadi makin terlihat jumlah pelanggar lalu lintas makin banyak.

Kita juga sama-sama tahu bahwa rambu lalu lintas bukanlah pajangan namun dibuat untuk keselamatan pengguna jalan. Dengan mengindahkan peraturan hasilnya alhamdulillah di Indonesia menurut data yang di langsir WHO lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar ke tujuh, lebih tinggi dari diabetes dan darah tinggi. Kalau saya sendiri ga berani melanggar lalu lintas karena menganggap nyawa saya mahal, terbayang tiap kali melihat pengendara yang menerobos lampu lalu lintas, kalau nyawa mereka aja di anggap murah bagaimana dengan harga dirinya?

Lalu kenapa banyak yang melanggar? bukan karena adanya kesempatan dan niat seperti yang sering dikatakan bag napi. Tapi saya melihat lebih kepada masalah mental. Berkendara sendiri bukan hanya masalah bagaimana sampai di tujuan dengan selamat, tapi juga ada namanya etika berkendara dimana setiap orang memiliki haknya masing-masing seperti trotoar untuk pejalan kaki. Bicara penyakit mental, dari seorang psikologi wanita yang sering muncul di tv(lupa namanya), menurut data terakhir penyakit mental tertinggi di DKI Jakarta adalah stress dan untuk Jawa Barat adalah rasa cemas. Saya memang tidak memiliki argumen yang kuat terhadap korelasi data penyakit mental tersebut terhadap apa yang terjadi di jalan raya. Namun kita mungkin setuju bahwa orang yang membenarkan tindakan yang nyata-nyata salah adalah orang stress.

Trus gimana donk?

Masalah sakit mental ini, menurut saya harus di selesaikan secara Top-Down, alias pemimpin memberi contoh, tindakan tegas kepada pelanggar tidak akan berarti apa-apa bila yang harusnya memberi contoh malah bagian dari penderita sakit mental. Atau adanya perubahan radikal secara bottom-up, tapi hal ini tentu akan lama menunggu sampai titik puncak dimana masyarakat sangat tidak nyaman di jalan, sehingga melakukan perubahan radikal.

Saya terhenyak tiap kali melihat di media ada bagian anggota masyarakat yang melakukan perubahan kecil dan konsisten untuk kebaikan bersama seperti komunitas saber yang membersihkan ranjau paku sampai komunitas yang melakukan sosialisasi agar trotoar kembali ke fungsi awal dengan tiduran di trotoar agar tidak ada kendaraan yang melintas, namun di sisi lain masyarakat yang sakit mental jauh lebih banyak dan menularkan penyakitnya kepada orang yang tadinya taat peraturan dan memiliki etika berlalu-lintas karena akhirnya berfikir “Buat apa saya benar malah disalahkan”. Saya pun sering kali merasakan dimana saya berhenti di belakang garis putih yang ada malah di klakson, namun saya tidak peduli dan tetap bertahan untuk berenti di garis putih, semata-mata hanya bertahan dengan prinsip saya untuk selalu bertindak benar.

Saya memang orang egois dan selalu ingin benar, untuk itulah saya tidak pernah tertarik melakukan kesalahan. Om saya mengajarkan kalau mau bawa kendaraan harus punya SIM, bukan karena takut kena razia, tapi bila terjadi apa-apa di jalan, sebenar apa pun kita akhirnya menjadi posisi yang salah hanya karena awalnya kita salah(mengendara tanpa memiliki SIM). Saat itulah saya belajar dan menjaga untuk berkendara dengan benar. Berapa sih dari kita yang membawa kendaraan pernah membaca mengenai buku peraturan lalu lintas? Mungkin tau bukunya ada juga ga, namun saya tertarik membaca agar selalu di posisi yang benar. Balik soal perubahan radikal adalah saya tidak jarang sengaja menabrakan kendaraan saya ke kendaraan yang menerobos lampu merah pada saat posisi lampu saya hijau. Bahkan memukul supir angkutan umum menjadi hal menyenangkan bagi saya semenjak tinggal di Jakarta, dimana mereka dapat semena-mena berhenti dan berbelok dan pengendara lain mengalah dengan dalih mereka mencari makan, padahal kita semua juga di jalan ke tempat tujuan untuk mencari makan. Kenapa saya berani? Karena saya di posisi yang benar dan tidak menganggap perbuatan supir angkutan umum wajar(selain saya memang latihan bela diri hehe).

Lalu lintas memang hanya salah satu symptom mengenai bagaimana tingkat penyakit mental yang ada pada bangsa ini. Selain itu juga banyak hal dari perilaku manusia bisa di lihat dari cara mereka berkendara, seperti apa yang pernah saya tulis di blog ini sebelumnya. Prinsip dan kebenaran tentunya adalah hal yang mudah di ucapkan tapi perlu tindakan dan konsistensi untuk mewujudkannya. Dan tentunya akan membentuk karakter kita yang baik atau pun buruk dari sudut pandang kita melihat sesuatu serta keberanian mempertahankan tindakan kita.

Keadaan tidak akan pernah berubah sesuai dengan apa yang kita inginkan untuk itulah kita selalu diberikan pilihan untuk mulai bertindak melakukan perubahan atau menunggu dan jadi bagian masyarakat yang berpenyakit mental “wajar”.


TAGS


-

Author

Follow Me