National Mentally Disorder dilihat dari kondisi jalan raya

3 May 2012

Beberapa hari yang lalu saya melihat hot threads di kaskus mengenai pengalaman salah satu warga Jakarta dengan judul “Saya Takut Hidup di Jakarta”, lalu saya cari sumbernya ternyata dari sebuah blog. Yang ada di benak saya setelah selesai membaca adalah ini hanya salah satu dari jutaan orang di Indonesia yang merasakan hal yang serupa. Dimana sebuah tindakan benar menjadi salah karena sebagian besar orang di suatu tempat menganggap yang salah adalah benar.

Teringat saat saya awal belajar dasar manejemen sumber daya manusia, dosen saya menyatakan bahwa untuk melihat pola hidup di suatu negara tinggal lihat bagaimana mereka berkendara di jalan raya, dan cara melihat di suatu tempat pemerintahannya korupsi adalah lihat kondisi jalan yang ada. Mendengar ucapan dosen, saya rada-rada tidak percaya sampai saat majunya teknologi internet lalu saya mencari bagaimana kondisi lalu lintas di luar Indonesia. Dan ternyata memang terjadi korelasi antara perilaku jalan raya dan perilaku masyarakat. Dimana jalan raya dapat menjadi salah satu indikatornya.

Blog tersebut menceritakan mengenai kota Jakarta. Memang dalam ilmu statistik 1 sample bukan berarti mutlak menggambarkan kesatuan objek(dalam hal ini adalah negara), namun kita mengetahui dimana kota Jakarta merupakan miniatur dari negara Indonesia, kota dimana menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, keuangan, bisnis dan masih banyak lagi keputusan strategis tercipta di Ibukota. Saya sendiri sekarang tinggal di Bandung, kota kelahiran saya. Setelah 13 tahun lebih saya tinggal di Jakarta untuk menuntut ilmu akhirnya memutuskan balik ke Bandung hanya karena Jakarta bukan tempat yang nyaman untuk hidup. Sampai sekarang pun saya heran mengapa orang tetap betah tinggal di Jakarta.

Dari segala macam masalah yang sehari-hari terjadi menjadi bagian hidup kita yang tinggal di Jakarta, dimana macet dan banjir adalah hal yang lumrah. Kota dimana warganya antara pasrah dan tidak peduli lagi terhadap pemimpin mereka. Dan pemimpin pemerintahan yang tidak peduli juga terhadap warganya. Padahal dalam pelajaran tata negara sewaktu SMA, salah satu fungi dari pemerintah adalah sebagai penjaga malam, dalam artian sistem yang memastikan seluruh warganya melakukan aktifitas dengan aman dan nyaman. Tapi kenyataan pemerintahan yang kita lihat bersama, malah maling dalam selimut yang justru menjaga kepentingannya masing-masing, seakan-akan hidup hanyalah saat ini, bukan untuk generasi berikutnya sebagaimana para cita-cita pendiri bagsa ini.

Setelah 4 paragraf di atas saya baru mau menjelaskan mengapa memberi judul “National Mentally Disorder”, karena lihat saja bagaimana keadaan negara ini dilihat dari hal yang terkecil yaitu jalan raya. Dimana orang berbuat benar malah disalahkan dan yang salah dibenarkan. Dan kalau disuruh menyalahkan pengguna jalan khususnya kendaraan pribadi, saya juga tidak berpendapat sepenuhnya salah pengguna jalan, peran pemilik kebijakan juga cukup besar mempengaruhi keadaan yang super semerawut ini.

Bagaimana pemerintah tidak menjadi penyebab terbesar kesemerawutan bila satu sisi menyalahkan orang memilih naik kendaraan pribadi namun di sisi lain membanggakan bagaimana naiknya perekonomian karena jumlah pemilik kendaraan pribadi terus meningkat. Yang saya sangsi adalah orang pemerintahan tersebut tidak belajar ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi sendiri sesungguhnya adalah ilmu mengenai cara pemenuhan kebutuhan hidup, uang dan barang hanyalah sebagian kecil dari alat ukur. Tapi yang terpenting adalah tingkat kebahagian seseorang, ini yang banyak orang menyangka ekonomi hanyalah ilmu mengenai angka dan keuangan. Kenapa parameter akhirnya adalah kebahagian? karena jelas kebutuhan saya dan Anda berbeda. Waktu harga cabai naik, saya menjadi orang tidak peduli karena saya tidak makan pedas. Begitu juga dengan menaiknya jumlah pemilik kendaraan apakah valid untuk mengukur tingkat ekonomi makro meningkat?

Bahkan dari situs the-marketeers di prediksi Indonesia akan menjadi negara dengan angka penjualan kendaraan tertinggi di dunia. Saat ini jumlah kendaraan terbanyak di dunia di pegang oleh Amerika, China kemudian Brazil. Begimane ceritanye mau membuat kota yang nyaman kalau pertumbuhan kendaraan tidak di rem? Selain itu infrastruktur angkutan massal yang layak juga tidak di bangun. Inilah mungkin yang di sebut bangsa ajaib. Menurut saya sih jelas pemerintah tidak peduli, karena mereka sendiri bukan pengguna angkutan massal.

Tadi kita baru bicara masalah sistem transportasi, nah sekarang bicara soal salah kaprah, dimana yang salah di anggap benar. Seperti melanggar lampu lalu lintas, sampai dengan menggunakan jalur yang tidak sesuai(mau belok tapi ambil jalur tengah). Untuk hal-hal yang bikin semerawut di jalan sebenarnya bukan hanya baru-baru ini terjadi, tapi sudah bertahun-tahun yang lalu, bedanya sekarang orang dapat dengan mudah dan cepat untuk mendapat informasi, ditambah memang jumlah kendaraan yang meningkat pesat. Jadi makin terlihat jumlah pelanggar lalu lintas makin banyak.

Kita juga sama-sama tahu bahwa rambu lalu lintas bukanlah pajangan namun dibuat untuk keselamatan pengguna jalan. Dengan mengindahkan peraturan hasilnya alhamdulillah di Indonesia menurut data yang di langsir WHO lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar ke tujuh, lebih tinggi dari diabetes dan darah tinggi. Kalau saya sendiri ga berani melanggar lalu lintas karena menganggap nyawa saya mahal, terbayang tiap kali melihat pengendara yang menerobos lampu lalu lintas, kalau nyawa mereka aja di anggap murah bagaimana dengan harga dirinya?

Lalu kenapa banyak yang melanggar? bukan karena adanya kesempatan dan niat seperti yang sering dikatakan bag napi. Tapi saya melihat lebih kepada masalah mental. Berkendara sendiri bukan hanya masalah bagaimana sampai di tujuan dengan selamat, tapi juga ada namanya etika berkendara dimana setiap orang memiliki haknya masing-masing seperti trotoar untuk pejalan kaki. Bicara penyakit mental, dari seorang psikologi wanita yang sering muncul di tv(lupa namanya), menurut data terakhir penyakit mental tertinggi di DKI Jakarta adalah stress dan untuk Jawa Barat adalah rasa cemas. Saya memang tidak memiliki argumen yang kuat terhadap korelasi data penyakit mental tersebut terhadap apa yang terjadi di jalan raya. Namun kita mungkin setuju bahwa orang yang membenarkan tindakan yang nyata-nyata salah adalah orang stress.

Trus gimana donk?

Masalah sakit mental ini, menurut saya harus di selesaikan secara Top-Down, alias pemimpin memberi contoh, tindakan tegas kepada pelanggar tidak akan berarti apa-apa bila yang harusnya memberi contoh malah bagian dari penderita sakit mental. Atau adanya perubahan radikal secara bottom-up, tapi hal ini tentu akan lama menunggu sampai titik puncak dimana masyarakat sangat tidak nyaman di jalan, sehingga melakukan perubahan radikal.

Saya terhenyak tiap kali melihat di media ada bagian anggota masyarakat yang melakukan perubahan kecil dan konsisten untuk kebaikan bersama seperti komunitas saber yang membersihkan ranjau paku sampai komunitas yang melakukan sosialisasi agar trotoar kembali ke fungsi awal dengan tiduran di trotoar agar tidak ada kendaraan yang melintas, namun di sisi lain masyarakat yang sakit mental jauh lebih banyak dan menularkan penyakitnya kepada orang yang tadinya taat peraturan dan memiliki etika berlalu-lintas karena akhirnya berfikir “Buat apa saya benar malah disalahkan”. Saya pun sering kali merasakan dimana saya berhenti di belakang garis putih yang ada malah di klakson, namun saya tidak peduli dan tetap bertahan untuk berenti di garis putih, semata-mata hanya bertahan dengan prinsip saya untuk selalu bertindak benar.

Saya memang orang egois dan selalu ingin benar, untuk itulah saya tidak pernah tertarik melakukan kesalahan. Om saya mengajarkan kalau mau bawa kendaraan harus punya SIM, bukan karena takut kena razia, tapi bila terjadi apa-apa di jalan, sebenar apa pun kita akhirnya menjadi posisi yang salah hanya karena awalnya kita salah(mengendara tanpa memiliki SIM). Saat itulah saya belajar dan menjaga untuk berkendara dengan benar. Berapa sih dari kita yang membawa kendaraan pernah membaca mengenai buku peraturan lalu lintas? Mungkin tau bukunya ada juga ga, namun saya tertarik membaca agar selalu di posisi yang benar. Balik soal perubahan radikal adalah saya tidak jarang sengaja menabrakan kendaraan saya ke kendaraan yang menerobos lampu merah pada saat posisi lampu saya hijau. Bahkan memukul supir angkutan umum menjadi hal menyenangkan bagi saya semenjak tinggal di Jakarta, dimana mereka dapat semena-mena berhenti dan berbelok dan pengendara lain mengalah dengan dalih mereka mencari makan, padahal kita semua juga di jalan ke tempat tujuan untuk mencari makan. Kenapa saya berani? Karena saya di posisi yang benar dan tidak menganggap perbuatan supir angkutan umum wajar(selain saya memang latihan bela diri hehe).

Lalu lintas memang hanya salah satu symptom mengenai bagaimana tingkat penyakit mental yang ada pada bangsa ini. Selain itu juga banyak hal dari perilaku manusia bisa di lihat dari cara mereka berkendara, seperti apa yang pernah saya tulis di blog ini sebelumnya. Prinsip dan kebenaran tentunya adalah hal yang mudah di ucapkan tapi perlu tindakan dan konsistensi untuk mewujudkannya. Dan tentunya akan membentuk karakter kita yang baik atau pun buruk dari sudut pandang kita melihat sesuatu serta keberanian mempertahankan tindakan kita.

Keadaan tidak akan pernah berubah sesuai dengan apa yang kita inginkan untuk itulah kita selalu diberikan pilihan untuk mulai bertindak melakukan perubahan atau menunggu dan jadi bagian masyarakat yang berpenyakit mental “wajar”.


TAGS


Comment
  • umma azura 5 years ago

    aku setuju dengan tulisan ini, sama seperti di kota saya Makassar. Prilaku di jalanan bener-bener luar biasa, tidak ada kenyamanan karena masing-masing pihak sudah tidak ada penghargaan. Macet yang terjadi karena kapasitas jalan yang sudah tidak bisa menampung luapan volume kendaraan. Sangat-sangat menyebalkan, karena pemerintah tutup mata, kuping, dengan semua kemacetan yang terjadi hampir di semua ruas jalan dari pagi sampai malam.

  • Bebek 5 years ago

    Sekaligus juga berpendapat:
    Kemunduran negara indonesia akibat national mentally disorder terjadi bukan karena jalan raya dan pemerintahan yang korupsi(walau itu benar), karena masyarakat kita yang memang nga pernah mau sadar. Masyarakat kita terlalu leluasa memberikan kesempatan bagi para bajingan untuk dibodohi, ditindas serta dimanfaatkan. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Emang dasarnya masyarakt negara kita yang memang nga tahu diri, nga tahu malu, nga punya akal budi. Didikan yang salah dipakai, didikan yang bener nga dipakai.

  • cah Bejo 5 years ago

    Saya pertama kali hidup di Jakarta pada awal Mei 2009, sejak itu saya sangat tidak nyaman dan selalu was-was ketika mengendarai motor di jalanan Jakarta. Saya sering (artinya berkali-kali) sengaja ditabrak dari belakang bahkan diajak berantem hanya karena berhenti dibelakang garis putih saat lampu merah menyala…karena mereka menganggap saya menghalangi mereka yang ingin melanggar, apalagi saya menggunakan motor dengan plat nomer dengan Letter S (asal daerah saya)…., saya dianggap orang luar yang sok.. padahal saya melakukan hal yang benar…

    untuk masalah ini, Mnurut saya yang dibutuhkan adalah Seorang pemimpin yang Diktator (dalam artian melakukan tindak kebenaran dan penegakan hukum). bagaimana caranya? semua yang melanggar peraturan apapun langsung SIKAT. Siagakan semua petugas di jalan raya, karena selama ini petugas suka nya ngepos sambil menunggu jebakan yang dipasangnya dapat mangsa, terjadilah suap menyuap..dst. akhirnya petugas di lapangan sekarang hanya seharga 10 ribu s/d 50 ribu saja. SUDAH TIDAK DIHARGAI LAGI (dalam artian harga diri yang sebenarnya)…

    Marilah bagi semua pembaca, mulai dari diri sendiri untuk menyembuhkan penyakit mental masing-masing, dan bersaing keras melawan penular penyakit mental negatip dengan menularkan segala yang benar dan positip…

  • indogelo 5 years ago

    tulisan yg sangat bagus! saya mau berpendapat mengenai hal yg sangat ditutup rapat, mengapa pemerintah tidak mau membangun infrastruktur transportasi yg baik,tp malahan mendukung pertumbuhan kendaraan, dan malah dijadikan indikator ekonomi.

    1. seluruh produsen mobil di indonesia berbondong2 memberi upeti kpd pemerintah agar jangan membangun infrasturktur yg baik. mengapa? begitu infrastruktur baik, transportasi umum nyaman, org pasti akan memilih transportasi umum, yg dimana berpikir tidak perlu2 amat membeli kendaraan.

    2. hal diatas dpt terjadi karena nasib indonesia yg di cap sebagai negara dunia ketiga, yaitu negara2 tempat dumping, seluruh pabrik2 yg menyebabkan kerusakan lingkungan dll.

    3. kejahatan jalanan yg merajalela adl salah satu strategi halus pemerintah juga yg ‘menyarankan’ org utk membeli kendaraan.

    semua hal yg saya paparkan diatas adl nyata adanya, walaupun saya tidak akan menyebutkan sumbernya darimana, tetapi saya berani menjamin bahwa hal itu saya dengar dengan kepala sendiri sampai tidak percaya.

    sedemikian rupa hancurnya mental pemerintah kita, yg tanpa kita sadari sebetulnya kita sendiri masih dijajah, parahnya oleh bangsa sendiri dengan dikendalikan oleh peb isnis2 besar.

    tabik

  • it_it 5 years ago

    maka mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri dan lakukan yang baik…. yang berkomentar disini paham akan hal ini….oleh karenanya tularkan, kampanyekan dan jangan capak….menyegarkan tulisan ini. tks

  • monyet 5 years ago

    Mantap, aku suka gaya penulisannya. Dan saya sependapat dgn anda, setuju.

    Sekarang solusinya pak?

    menurutku, solusinya
    1. Kalo dari pengguna jalan
    Gimana kalo WAJIB MILITER?dijalanan aja asal2an naik kendaran, gimna ditempat kerja, di pemerintahan, di swasta, dll, dari yg gak disiplin berlalu lintas sampai korupsi kecil2an akibatnya tidak ada nasionalisme lagi, sebenarnya bom waktu loh ini, kasus timor2 akan terulang lagi di daerah2.
    2. Polisi
    - Sosialisasi dan iklan di TV misalny, TV gak harus bayar 100% seperti kebanyakan iklan yg ada,asal hak2ny stasiun TV juga lancar. Bikin iklan disiplin berlalin, bikin acara gathering dgn biker, sosialisasi lalin, termasuk urusan tilang (yg masih diwilayah abu2). Bikin lingkungan tertentu sbg daerah tertib lalin, fokus di lingkungan tsb dulu, tapi jangan langsung denda, sosialisasi jika ada yg melanggar.
    - Punish and reward ditingkatkan lagi, kenapa polisi tidak mau menertibkan, karena mending di dlm ruangan dari pada berpanas2 kalo gajinya sama, dia pasti akan membandngkan PNS yg lain.
    3. Semua instansi pemerintahan juga harus tegas, setiap pegawai pemerintahan akan dikenakan sanksi tegas jika ketahuan melanggar lalin. Lingkungan pemerintahannya dulu dibenerin, baru benerin warganya yg dijalan. PNSnya benerin dulu, apalagi di honorer yg perekrutannya atas azas saudara

    Maaf ngelantur, cuman inti dari atas bahwa : dari lalin, akan kelihatan rakyat/daerah/negaranya tsb kan? hehehe

    mumpung SDA (Sumber Daya Alam) kita banyak…tunggu 20thn lagi kalo gak ada perubahan + SDA kita abis….mo jadi apa negara ini, pikirin tuh calon2 anakmu besok kalo udah gede

    I love indonesia

    nyemot

  • januar 5 years ago

    Beberapa tahun lalu, saya harus mengunjungi beberapa negara untuk tugas belajar. Pada satu airport disalah satu negara , saya merasakan sesuatu yg tidak enak pada diri saya….Setelah beberapa detik saya berdiam diri, saya merasa genggaman tangan saya pada tas tangan saya kok jadi lain… terasa lebih kuat .
    Ternyata itu secara reflek saya lakukan karena melihat lalu lintas yg lebih semrawut dari pada airport di negara yg sebelum nya saya kunjungi. Mungkin secara tidak sadar saya telh melakukan pengamanan diri dan barang bawaan saya , karena merasa memasuki negara yg tidak terlalu terjamin keamanan nya ?????
    Memang untuk melihat suatu daerah/negara itu TERTIB, TERATUR sehingga AMAN …… itu cukup MUDAH …. yaitu cukup dengan melihat TERTIB, TERATUR atau TIDAK nya LALU LINTAS nya saja.
    ………. Lalu kapan kita bisa mencapai nya ??????….

  • Alf 5 years ago

    wah tapi akhirnya anda juga jadi ketularan sakit mental kalau baca kalimat ini “Bahkan memukul supir angkutan umum menjadi hal menyenangkan bagi saya semenjak tinggal di Jakarta” serta ini “Kenapa saya berani? Karena saya di posisi yang benar dan tidak menganggap perbuatan supir angkutan umum wajar(selain saya memang latihan bela diri hehe)”.
    Hukum rimba lah akhirnya yg terjadi, dan malah anda diposisi yang salah dan perbuatan kriminal kalau melakukan pemukulan ya kan? Kecuali membela diri konteksnya. Piss. Yah mudah2an aja makin banyak orang2 yg sadar, dan muak akan ke”sakit”an yg tengah melanda, dan akhirnya bisa membuat gerakan kearah yg lebih baik…amin.

  • 0t0ng 5 years ago

    cerita pengalaman aja, jalur perjalanan saya dari jembatan lima - binus,
    jalur pergi jmb v-cideng-palmerah-slipi layang-syahdan-angrek dan jalur pulang angrek-tanjung duren-cl-latumenten-jembatan besi-jembatan lima,

    waktu tempuh normal dalam artian menaati peraturan yang ada 1jam 20menit-1jam 30menit,
    waktu tempuh ikut mayoritas dalam artian agak ngebut+selap selip utamanya di palmerah+syahdan+tanjung duren+jembatan besi adalah 45-60menit,

    ya keputusan ada di tangan anda, ikut mayoritas walau lampu merah ikut jalan, ato tunggu lampu ijo walau diklakson orang yang ingin jalan berjamaah..

  • localhost 5 years ago

    mari perbaiki akhlak kita

  • dodol lipet 5 years ago

    Ya saya juga pernah mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan. Saya adalah seorang biker, pernah di depan saya melihat kondisi angkot pada ngetem, saya tau itu adalah tempat dimana banyak orang menyeberang, maka saya melambatkan laju kendaraan motor saya. Sehingga tercipta jarak yang aman, cukup lebar seandai nya ada orang yang menyeberang tetapi tidak terlhat karena tertutup oleh mobil mobil. Tak dinyana dari belakang muncul skutik jahanam, melaju dengan kencang dan zigzag melalui jarak yang ada antara motor saya dengan mobil di depan.

    Kaget, tentu saja. Emosi, tahan dulu. Akhirnya posisi kami bisa sejajar lagi. Dan saya cenderung di kiri dengan kecepatan sedang. Saya liat dia sudah mulai menggeber gasnya, dengan cekatan saya geber juga motor saya sehingga jarak aman segera tertutup. Motor jahanam itu akhirnya bersenggolan spion / setang nya dengan motor saya. Pengendara motor jahanam memepet motor saya, saya ladeni. Saya menepi.

    Dasar pengemudi motor jahanam, bukan nya berhenti menepikan motornya, dia seenak nya berada di tengah dan marah marah, bilang saya motong jalurnya. Sambil marah, dia pukul saya, ngajak berkelahi, mau nya apa, kata pengendara motor jahanam.
    Untung cuman provokasi sejenak, saya bilang saja, saya mau kita semua sopan dalam lalu lintas. Saya katakan, yang jalan zigzag itu anda daritadi, saya tetap di jalur saya, di kiri.

    *Saya juga sering melakukan hal gila tersebut jika melihat biker lain zigzag, saya tutup jarak aman saya. Sebelumnya saya biarkan jarak aman, begitu dia mau motong, saya tutup. Puas banget rasanya melihat pengendara motor zigsaz kelabakan mengerem mendadak.

    *Seringkali jarak aman disangka lambat, lalu diembat

    *Saya tidak bisa beladiri, hanya bisa pasrah jika dipukuli orang gila dijalanan.

    Yah begitulah, yang waras akhirnya ngalah.
    ~dodol lipet

  • Donny 5 years ago

    Saya suka tulisan anda. Tapi saya berpikir, jangan-jangan anda menyebut “sakit mental” hanya sekedar penghalus/ eufemisme dari kata “kurang pintar”, atau kalau mau lebih kasar: bodoh. Kalau “bodoh” terlalu kasar, ya mungkin bisa diperhalus lagi dengan “kurang wawasan”, atau “kurang pendidikan”?

    Apa aja lah istilahnya. Yang jelas, saya berpendapat begitu karena kalau kita coba pikir, kenapa begitu banyak orang yang dengan mudahnya tidak mengindahkan aturan lalu lintas, ya kemungkinan karena mereka tidak bisa berpikir panjang. Tidak bisa berpikir panjang, apa akibatnya. Motor/ mobil yang menerobos lampu lalu lintas, misalnya, dia hanya berpikir mau cepat sampai, atau malas harus tunggu. Tapi dia tidak berpikir bahwa tindakannya itu bisa membuat dia celaka atau minimal, bikin arus lalu lintas dari arah lain terhambat. Sama halnya dengan kendaraan yang mau belok dari jalur tengah, sama sekali tidak terbersit dalam pikirannya bahwa kalau semua orang melakukan hal itu, ya hasilnya lalu lintas menjadi semrawut.

    Saya setuju bahwa solusi “top-down” akan lebih manjur. Memang harus ada contoh. Kalau sekarang ada berjuta-juta pengguna jalan yang masih “kurang pendidikan”, satu-satunya cara adalah memberi contoh. Melalui iklan layanan masyarakat di TV misalnya. Sebodoh-bodohnya binatang, kalau kita kasih contoh pun lama-lama akan bisa. Ya tentunya asumsinya, manusia pengguna jalan ini tidak lebih bodoh dari binatang.

    Tapi satu hal lagi, kita semua harus sadar dulu, bahwa kita ini masih “kurang pendidikan”. Ini yang susah. Karena melihat kondisi sekarang ini, yang terjadi malah orang yang kurang pendidikan pun sudah berubah menjadi sombong dan arogan. Contoh paling klasik sehari-hari, sudah jelas kita berhenti dengan benar di lampu merah/ garis putih, yang ada malah diomelin orang sekampung. Padahal kita tahu bahwa kalau kita melanggar, akibatnya bisa panjang. Ya gitu lah, sudah bodoh, arogan pula.

    Kalo sudah soal arogan ini, entah lah jawabannya apa. Apa artinya kita harus menerima saja, hidup di Jakarta (terutama di jalanan), seperti hidup di rimba. Siapa yang kuat, dia yang menang. Silakan aja deh… saya lebih pilih cari tempat lain untuk hidup keluarga saya. Tempat yang beradab dan berbudaya. Tidak harus pintar, tapi tidak bodoh, minimal dalam menyadari bahwa tempat publik bukan hanya milik kita.

  • Silalahi 5 years ago

    Pendapat dosen anda benar, kondisi lalu lintas bisa menjadi salah satu petunjuk bagaimana mentalitas suatu bangsa. Saya sudah berkunjung ke 11 kota di berbagai negara, dan so far statement dosen anda itu benar. Bangsa kita memang masih sangat memprihatinkan, mulai dari pemimpin sampai rakyat, mengalami mentally disorder…

  • buyung kiu 5 years ago

    Sampai detik ini, aku tetap menganggap bahwa yang salah untuk urusan Indonesia ini secara umum dan kesemberawutan lalu lintas secara khusus adalah Polisi. Jadi bukan karena orangnya yang punya ‘penyakit’ apa segala. Tetapi karena Polisilah Indonesia ini menjadi rusak!

    Aku bisa membuktikannya dengan sederhana, gak perlu penelitian mendalam segala. Cobalah kita amati orang-orang yang lalu lalang di Orchard Road di Singapura yang tertib dan penuh dengan kepedulian. Sebagian besar dari mereka adalah Orang Indonesia. Amatilah kelakuan mereka sewaktu mereka di Indonesia. Gak usah jauh-jauh, di Bandara Sukarno Hatta saja, sewaktu keluar dari pesawat, mereka sudah seperti orang Bar-bar yang tidak mengerti dengan ketertiban. Padahal sejam yang lalu, mereka di Bandara Changi sangat tertib dan penuh toleransi. Kenapa bisa demikian? Karena Polisi! Polisi di Indonesia cenderung melakukan pembiaran. Mereka melihat untung rugi, bukan melihat tugas dan kewajiban. Mereka bukan penegak hukum, tetap preman yang sialnya diberi kewenangan oleh negara ini, dan melakukan pengrusakan moral baik sengaja maupun tidak. Pembiaran ini adalah penyakit polisi, yang berdampak sangat merusak pada bangsa ini!

  • riyorange 5 years ago

    ..gak peduli, yg penting sy tetep stop dibelakang garis putih sampai lampu bener”ijo. Bener jg sih sering diklaksonin+dapet cacian..tapi jaman sekarang yg waraspun harus berani cuek demi prinsip.Semoga mereka cepat sembuh..

  • herlita 5 years ago

    wah,tulisan yang bagus…..ujung-ujungnya ke bagaimana mengubah mental yg sudah disorder….karena keteladanan jg sudah sangat minim. Dan sakit mental adalah salah satu jenis penyakit yang sulit sekali penanganannya,hahahaha……mungkin harus ada program hipnotis (positif)massal..mulai dari pimpinan hingga rakyat kecil.susah memang indonesia ini…yah, jalani saja kehidupan masing-masing sebisa mungkin yah. change is not easy..never easy..

  • depz 5 years ago

    wah tulisan bagus ini
    masalah mental, hal simpel aja deh
    kadang di sbuah pantai ada sampah
    kalo anak bule lgsg memungutnya dan mencari tong sampah
    kalo orang lokal, malah melemparkan sampah itu ke laut
    stereotype yg bisa dirubah top->down

    nice post

-

Author

Follow Me