Apakah makin tinggi jenjang pendidikan wanita makin sulit dapat pasangan?

4 May 2012

Pukul 4 pagi kemaren setelah saya menyelesaikan 2 tulisan saya di blog ini dan tumblr, niat saya mau lanjut belajar tutorial dreamweaver cs6, namun tiba-tiba ada 1 teman saya dari SMP yang online di ym. Karena sudah lama kami tidak berkomunikasi lalu saya tanya kabarnya dan jawaban pertama dia adalah “Help me, im stressed out”, waduh kenapa ini pikir saya. Dan komentar kedua dia adalah “Man, emang bener yah kalau ce S2 membuat co ga ada yang mau? Gw pengen gendut lg, sekarang berat gw 45kg”.

Karena kenal selama belasan tahun dengan teman saya ini, saya tahu dia bukan tipe wanita yang mudah depresi dan tidak terlalu sulit juga buat mendapatkan pasangan. Saat ini teman saya ini sedang melanjutkan pascasarjana pada jurusan urban city planning. Dan setahu saya dia pacaran hanya 3 kali dan selalu lebih dari 5 tahun tiap dia berhubungan, kebalikan dari saya yang rata-rata umur hubungan saya lebih cepat daripada garansi barang pasar gelap(emang barang BM ada garansinya gitu?).

Lalu saya menawarkan dia terapi NLP(Neuro Linguistic Programming) alias awaking hypnosis untuk merecovery keadaan dia, karena sebelumnya saya pernah melakukan NLP kepada dia saat putus dari mantan yang sebelumnya. Namun dia menolak.

Kemudian saya coba mengorek kenapa dengan pernyataan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang wanita akan makin sulit mendapatkan pasangan. Ternyata teman saya ini sering membaca dari media luar negeri beserta hasil penelitian mengenai hal tersebut. Spontan saya ketawa, karena reaksi yang saya berikan teman saya lalu menganggap bahwa apa yang dia baca adalah tidak benar. Saya coba jelaskan bahwa apa yang dia baca benar, tapi bukan berarti berlaku sepenuhnya kepada tiap individu, bahkan bila surveynya dilakukan di wilayah luar Indonesia bisa saja hasil penelitian tersebut tidak berlaku karena banyak faktor responden yang berbeda.

Akhirnya pembicaraan kami lebih kepada teknis statistik. Sebelumnya di blog ini juga saya pernah membahas mengenai topik yang sama dengan judul “Pasangan hidup sebaiknya superior atau inferior?”, jadi berhubung sudah pernah dibahas jadi saya sudahi saja postingan kali ini. Jadi kali ini akan lebih membahas ke arah statitik yang umum.

Saya dan teman saya ini berbeda dari latar belakang ilmu, teman saya seorang arsitek dan saya pengangguran profesional. Maksudnya adalah teman saya terlatih sangat eksak dengan perhitungan yang pasti, sedangkan saya kuliah dengan 2 jurusan, 2-2nya sangat tidak pasti(Manajemen Sumber Daya Manusia dan Hubungan Masyarakat). Saya pun menceritakan apa yang pernah saya terima mengenai pelajaran satatistik yaitu jangan pernah samakan dengan ilmu matematik dimana 2+2 jawabannya akan selalu 4 dan selalin itu adalah salah. Dalam ilmu statistik pertanyaan 2+2 hasilnya bisa 3,4,5 bahkan kesemuanya bisa jadi benar, tergantung dari jenis metode, responden dan waktu pengambilan data.

Teman saya lalu bertanya balik karena merasa hasil penelitian statistik kemungkinannya sangat besar, dengan pertanyaan apa warna lipstik yang sexy, tentu jawabannya adalah warna merah. Saya coba tanya balik kalau saja pertanyaannya adalah apa warna lipstik yang disukai laki-laki, maka kita akan mendapatkan lebih banyak jawaban(open question). Saya setuju warna lipstik yang sexy adalah merah, namun saya lebih tertarik melihat wanita dengan warna lipstik peach. Saya hanya ingin membuktikan bahwa statistik dengan mudah hasilnya dapat berbeda dengan sedikit merubah pertanyaan pada responden yang sama, oleh karena itu ada buku dengan judul “Berbohong dengan statistik”.

Dalam keseharian kita bisa melihat secara mentah banyak kebohongan yang kita dapat dari mulai pernyataan iklan bahwa 8 dari 10 orang menggunakan produk X, atau kita percaya dengan pasangan kita hanya karena pola kebiasaannya, seperti kalau telepon tidak di angkat karena sering kali sedang tidur sehingga kita menganggap telepon tidak di angkat berarti tidur. Apakah pasti sedang tidur? Tidak juga kan, tapi kalau dibilang tidur kita akan percaya karena jumlah statistik orang tersebut terbukti sedang tidur lebih banyak.

Ini juga yang sering mengakibatkan kekacauan hidup, yaitu informasi yang ditelan begitu saja dan dipercaya benar karena hasil dari penelitian statistik. Memang hasilnya pasti benar tapi belum tentu ada hubungan berpengaruh terhadap diri kita. Tapi karena keyakinan akhirnya terjadi lah. Bicara statistik soal hubungan saya teringat film komedi romantis “Whats your number?”, tokoh film tersebut adalah seorang wanita muda yang telah tidur dengan 19 pria, lalu dia membaca artikel mengenai penelitian bahwa wanita yang tidur dengan 20 atau lebih maka dalam hidupnya hanya punya kesempatan sebesar 3% untuk menikah. Film yang di ending nya saat sang tokoh utama tidak lagi peduli dengan angka statistik, justru mendapatkan pasangan hidup.

Terlepas dari urusan statistik saya selalu punya keyakinan bahwa jodoh dan rejeki itu tidak akan pernah ketuker. Jadi untuk apa kita cemas. Kecuali kalau diri kita tidak yakin terhadap kekuatan yang sudah mengatur hidup kita yah silahkan cemas. Tidak ada korelasi antara makin tinggi tingkat pendidikan wanita makin sulit mendapatkan pria, karena mungkin pada minder. Justru saya memberi argumen kepada teman saya bahwa pada saat kita “di atas” kita akan memiliki pilihan lebih banyak lagi, namun saat kita “di atas” kita memiliki kecenderungan untuk menaikan standar kriteria calon pasangan kita.

Dengan penjelasan tersebut alhamdulillah teman saya lumayan mulai bangkit, karena gara-gara stres mikirin ga punya pasangan karena umurnya sudah 26 akhirnya sekarang kuliah dia terbengkalai. Saya cuman bilang bahwa tidak ada manusia yang bisa memikirkan lebih dari 1 hal secara bersamaan dan kita harus fokus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai dan serahkan apa yang tidak bisa kita kendalikan kepada invisible hand.


TAGS


Comment
  • Adios Amegas 3 years ago

    Saya jadi takut s2 dulu baru menikah :(

  • smartinnisa 5 years ago

    punya cita2 untuk melanjutkan S2 sudah terbersit ketika saya masih kuliah di S1 dan ketika kini sedang menjalankannya dan hampir selesai kekhawatiran akan hadirnya “jodoh” itu mulai berkeliaran di fikiranku. tapi setelahnya baca blog dan baca2 komentar kini rasa khawatir itu mulai memudar. Renacana, usaha dan do’a itu yang selalu kutanam dalam hati.

  • mentari 5 years ago

    Membaca tulisan di blog ini, mengingatkanku akan perjuangan mengenai “cinta” sampai akhirnya saya menulis komentar ini S2 masih terbengkalai dari yg jomblo akhirnya telah berkeluarga. Waktu itu juga ada harap-harap cemas melanda mengingat jenjang pendidikan dan usia, apakah akan semakin sulit untuk mendapatkan pasangan hidup. Berusaha, berdoa, bersabar, dan ikhtiar selalu ada jalan di keajaiban detik terakhir yg tak pernah diduga.

  • crissy 5 years ago

    Selalu positif thinking kepada-Nya, semoga selalu dimudahkan jalan kita.

  • Perempuan 5 years ago

    Memang banyak pemikiran perempuan yang akan menempuh pendidikan lebih tinggi berpikiran demikian, termasuk saya (dulu). Saat mendapatkan beasiswa S2, sempat terbersit kekhawatiran itu, tapi dalam hati saya bicara pada Tuhan “Tuhan, jika menimba ilmu yang saya cintai ini akan membuat saya jauh dari jodoh, saya ambil resiko itu..”. Tapi justru di masa kuliah S2 itulah saya diperkenalkan oleh-Nya pada calon suami saya sekarang. Pria yang tingkat pendidikannya “hanya S1″, tapi mencintai saya apa adanya..
    Jadi, percayakanlah saja alur hidup anda pada Tuhan YME..

  • lowongan kerja 5 years ago

    mungkin ada benarnya juga , teruta untuk di kota- kota besar

  • netpuch 5 years ago

    mungkin juga ada benarnya. pendidikan saya s3 dan beberapa degree di s1 dan s2. dulu saya suka wanita cantik dan cerdas… tapi semakin mapan di pekerjaan kok saya justru cari wanita yg sederhana saja. yang mau ngurusin saya dan anak di rumah kalo kelak jadi istri saya. ga tau pria2 lajang yg lainnya ya…
    bagus juga tuh untuk di jadikan penelitian… tapi hemat saya, lelaki itu mahluk simple… kalo ada wanita menarik… pasti tertarik…

  • Dyah Kusumastuti 5 years ago

    kenyataannya, trend yg ada justru laki2 mulai mencari wanita sbg pasangannya, dg tingkat pendidikan yg di atas standar, pekerjaan yg mapan, syukur2 sdh punya “kepribadian” yg lengkap…
    bukan jamannya lagi laki2 nyari wanita kampung yg tinggal duduk manis di rumah nunggu suami pulang kantor…

-

Author

Follow Me